Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pemutakhiran data mengenai dampak bencana gempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga data terkini disampaikan, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 91 orang. Angka tersebut menunjukkan adanya penambahan 4 korban jiwa dibandingkan laporan pada hari sebelumnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa korban jiwa terbanyak akibat guncangan gempa bumi ini berasal dari wilayah Manggarai.
Rincian Demografi Korban Jiwa dan Luka-Luka
Berdasarkan identifikasi jenis kelamin dari total 91 korban meninggal dunia, sebanyak 40 jiwa merupakan laki-laki dan 48 jiwa berjenis kelamin perempuan. Sementara itu, 3 korban meninggal lainnya belum diketahui jenis kelaminnya karena masih dalam tahap proses identifikasi oleh tim penanganan di lapangan.
BNPB Minta Negara Tetangga Tak Saling Salahkan soal Asap Karhutla Kalimantan

Jika ditinjau dari klasifikasi kelompok usia, sebagian besar korban meninggal merupakan kelompok lanjut usia (lansia), yakni sebanyak 39 jiwa. Selain kelompok lansia, korban jiwa lainnya terdiri atas 35 orang dewasa, 12 korban kategori anak dan remaja, 4 anak bawah tiga tahun (batita), serta 1 anak bawah lima tahun (balita).
Selain merenggut korban jiwa, dampak gempa bumi tersebut juga menyebabkan kerugian fisik yang luas. BNPB mendata sebanyak 1.286 orang mengalami luka-luka dan membutuhkan penanganan medis.
Faktor Penyebab Kematian dan Rekor Gempa Susulan
Mengenai penyebab meninggalnya para korban, Berton memaparkan bahwa mayoritas kematian dipicu oleh runtuhnya struktur fisik bangunan. Sebanyak 51 persen korban dinyatakan meninggal dunia akibat dampak langsung dari gempa bumi, seperti tertimpa puing reruntuhan bangunan. Sementara itu, 49 persen korban lainnya meninggal dunia akibat dampak tidak langsung dari peristiwa tersebut.
Modus Tersangka Karhutla, Lahan Sengaja Dibakar dan Disiapkan Jadi Kebun Sawit

Di sisi lain, aktivitas kegempaan di wilayah Nusa Tenggara Timur masih terus berlangsung secara masif. BNPB mencatat telah terjadi 5.688 kali gempa susulan sejak gempa awal hingga saat pembaruan data dilakukan.
Variasi kekuatan gempa susulan yang terekam memiliki rentang kekuatan magnitudo terkecil 1,1 hingga magnitudo terbesar 6,2. Dari ribuan aktivitas seismik susulan tersebut, tercatat sebanyak 130 kali gempa susulan dirasakan secara langsung oleh warga pada hari pelaporan.






