Sebanyak 1.280 calon pekerja migran Indonesia (CPMI) asal Jawa Barat disiapkan untuk memasuki pasar kerja internasional melalui pelatihan intensif Program SMK Go Global. Program ini diarahkan untuk membekali para peserta dengan keterampilan teknis dan kemampuan bahasa sesuai standar negara tujuan penempatan.
Pelaksanaan program di tingkat Jawa Barat resmi dimulai melalui acara peresmian di Migran Center Kampus Universitas Teknologi Bandung (UTB), Rabu (26/8/2026). Kampus tersebut menjadi salah satu pusat pelatihan yang memfasilitasi peningkatan kompetensi peserta sebelum diberangkatkan ke luar negeri.
Sebelum memasuki masa pelatihan, para peserta terlebih dahulu melewati tahapan seleksi administrasi dan wawancara. Peserta yang dinyatakan lolos kemudian diarahkan pada materi kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan lowongan kerja yang tersedia.
ASDP Kerahkan 24 Kapal untuk Urai Antrean Kendaraan hingga 13 Km di Ketapang

Materi dan Skema Pelatihan
Kepala BP3MI Jawa Barat Kombes Pol. Singgih Hermawan menyampaikan bahwa 1.280 CPMI tersebut akan menjalani masa pelatihan selama satu hingga tiga bulan. Pelatihan mencakup penguasaan teknis dan penguatan komunikasi internasional.
Adapun bidang pelatihan yang disiapkan meliputi operasi produksi, manufaktur, keperawatan atau nursery, serta pelatihan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Setelah menyelesaikan program dan memenuhi seluruh persyaratan penempatan, peserta akan ditempatkan di negara-negara tujuan yang telah ditetapkan secara resmi oleh pemerintah.
Target Penyerapan Tenaga Kerja
Program pelatihan ini berjalan seiring dengan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menargetkan tidak ada lagi pemuda menganggur di wilayahnya pada 2029. Upaya tersebut diintegrasikan dengan proyeksi kebutuhan tenaga kerja formal di pasar global.
AI Berkembang Pesat, Indonesia Perlu Bangun Kapasitas Teknologi

Secara nasional, pemerintah menetapkan target penyiapan 500.000 tenaga kerja terampil untuk ditempatkan di luar negeri sepanjang periode 2026 hingga 2029. Kuota tersebut terbagi atas 300.000 lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan 200.000 peserta dari jenjang pendidikan umum, mulai dari SMA sederajat, diploma, hingga sarjana.
Realisasi target nasional tersebut dirancang secara bertahap, dimulai dengan 40.000 peserta pada 2026, meningkat menjadi 140.000 peserta pada 2027, mencapai 180.000 peserta pada 2028, dan ditutup dengan 140.000 peserta pada 2029.






