Indonesia didorong untuk membangun kapasitas teknologi secara mandiri di tengah percepatan perkembangan kecerdasan buatan (AI) global. Penguatan kapasitas domestik dinilai krusial agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar konsumen produk teknologi luar negeri, melainkan mampu memproduksi dan mengelola teknologinya sendiri.
Isu kesenjangan kapasitas teknologi dan tata kelola AI tersebut menjadi sorotan dalam rangkaian World Encounter Summit 2026 di Bali. Forum yang melibatkan pemimpin pemerintahan, akademisi, pemuda, tokoh agama, pelaku industri teknologi, serta masyarakat sipil dari lima benua ini membahas dampak AI pada sektor pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut B. Pandjaitan menegaskan pentingnya kemandirian teknologi nasional agar Indonesia memiliki daya saing kuat dalam ekosistem digital dunia.
“Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM,” ujar Luhut dalam siaran pers, Sabtu (5/9/2026).
Terkesan Sepele, Kelalaian soal Selotip Renggut Nyawa Puluhan Orang

Kesenjangan Infrastruktur dan Penguatan Riset
Diskusi dalam forum menyoroti ketimpangan antarnegara terkait akses data, daya komputasi, infrastruktur digital, ketersediaan talenta, serta regulasi pemanfaatan teknologi. Kesenjangan ini menuntut langkah strategis agar negara berkembang tidak tertinggal dalam rantai nilai AI.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menjelaskan bahwa tingginya tingkat adopsi AI di kalangan generasi muda Indonesia harus diimbangi dengan kesiapan ekosistem pendukung.
“Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional,” kata Meutya.
Menurut Meutya, kondisi ini justru membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan inovasi mandiri lewat penguatan riset, peningkatan keterampilan talenta, penyediaan infrastruktur yang memadai, dan perumusan kebijakan yang tepat.
Warga Desak Operator Patuhi Kebijakan Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus

Dimensi Kemanusiaan dan Keadilan Global
Rangkaian pertemuan di Bali diawali dengan Bali Harmony Dialogue di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, pada Kamis (3/9/2026), lalu berlanjut dengan XI International Scholas Chairs Congress 2026 pada 4–6 September 2026.
Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes Maria Paz Jurado mengingatkan bahwa dialog mengenai AI tidak boleh terbatas pada kecanggihan komputasi mesin semata, melainkan harus mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan yang ingin dibentuk bersama kemajuan teknologi.
Pemerataan manfaat AI dinilai berkaitan erat dengan prinsip keadilan sosial, ekonomi, moral, dan keberlanjutan lingkungan hidup secara menyeluruh.






