Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily dan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla menghadiri pembukaan Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (5/9/2026). Dalam forum tersebut, keduanya menyoroti arah transformasi pendidikan Islam dan peran strategis pesantren dalam merespons tantangan masa kini.
Ace Hasan Syadzily menegaskan bahwa pendidikan masa depan tidak boleh terpaku hanya pada capaian akademik semata. Menurutnya, sistem pendidikan perlu membentuk kepribadian manusia secara menyeluruh, mencakup spiritualitas, karakter moral, keterampilan hidup, hingga kepekaan sosial.
Ia memandang pesantren memiliki keunggulan mendasar sebagai institusi yang mempraktikkan proses belajar secara nyata. Pesantren, kata dia, adalah sekolah kehidupan tempat nilai-nilai luhur dihidupkan dan karakter dibentuk melalui pembiasaan sehari-hari.
Dugaan Sumber Dentuman di Bandung, Anak Krakatau hingga Skyquake

Kendati sarat tradisi, Ace menekankan pentingnya modernisasi metode di lingkungan pesantren. Pesantren didorong untuk terbuka terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI), kemajuan teknologi, riset ilmiah, inovasi, serta kolaborasi internasional tanpa menanggalkan akar jati dirinya. Nilai-nilai universal dalam tradisi Islam seperti rahmah, keadilan, keseimbangan, persaudaraan, dan pemuliaan martabat manusia harus tetap menjadi fondasi utama.
Sementara itu, Jusuf Kalla (JK) menyoroti pentingnya orientasi praktis dalam penerapan pendidikan holistik. JK menjelaskan bahwa pendidikan menyeluruh harus mengintegrasikan tiga aspek sekaligus, yakni kepala (head), hati (heart), dan tangan atau keterampilan terapan (hand).
JK menilai model pembelajaran berbasis hafalan sudah tidak relevan di era digital. Kehadiran ponsel pintar dan kecerdasan buatan telah mempermudah akses informasi secara instan, sehingga ruang kelas perlu beralih ke pengembangan nalar kritis dan keterampilan aplikatif.
Hujan Abu Erupsi Gunung Anak Krakatau Melanda Pandeglang, Warga Diimbau Gunakan Masker

Agar proses tersebut berjalan efektif, JK menggarisbawahi ketersediaan sarana pendukung seperti laboratorium, ruang kerja, fasilitas praktik, hingga ruang diskusi dan debat. Peran tenaga pengajar pun diharapkan bertransformasi dari sekadar penceramah materi menjadi fasilitator yang memantik dialog aktif bersama para santri atau mahasiswa.
Ketimpangan antara teori akademik dan kemampuan praktik, menurut JK, menjadi salah satu faktor yang membuat banyak lulusan perguruan tinggi memerlukan waktu lama untuk terserap di dunia kerja. Ia menegaskan bahwa gagasan pendidikan holistik tidak boleh berhenti sebatas wacana seminar atau konferensi, melainkan harus diwujudkan melalui aksi konkret dan pembenahan nyata di lapangan.






