Warga di sejumlah kawasan Bandung Raya diresahkan oleh kemunculan suara dentuman misterius sejak Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari. Suara berulang yang terdengar keras hingga menggetarkan pintu rumah warga tersebut memicu spekulasi terkait sumber asalnya, mulai dari perambatan suara erupsi Gunung Anak Krakatau hingga fenomena dentuman langit (skyquake).
Laporan getaran dan dentuman salah satunya dirasakan oleh Estu Risha Fahmie, warga Bandung yang mengaku mendengar suara gemuruh tersebut sejak malam hari hingga Sabtu pagi. Bersamaan dengan peristiwa itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tengah mengalami erupsi terus-menerus sejak Jumat pukul 23.07 WIB.
Perambatan Energi Akustik Erupsi Krakatau
Kepala PVMBG Rita Susilawati menjelaskan bahwa erupsi gunung api bertipe freatik atau letusan eksplosif berpotensi melepaskan energi akustik dalam skala sangat besar. Gelombang suara dari pelepasan energi tersebut mampu merambat melalui atmosfer hingga ratusan kilometer dari titik pusat letusan.
Hujan Abu Erupsi Gunung Anak Krakatau Melanda Pandeglang, Warga Diimbau Gunakan Masker

Peristiwa serupa pernah tercatat saat letusan eksplosif Gunung Kelud pada 13 Februari 2014, ketika kolom erupsi setinggi 17 kilometer menghasilkan dentuman keras yang terdengar hingga wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Berdasarkan penjelasan Badan Geologi, dentuman Anak Krakatau dapat terpicu oleh ekspansi pelepasan gas bertekanan tinggi secara cepat, serta gesekan maupun turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di dalam lubang kepundan (conduit).
Analisis Fenomena Skyquake dan Anomali Wilayah
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengkaji kemungkinan fenomena atmosferik lain. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi menyebut kejadian ini memiliki kemiripan dengan fenomena skyquake yang pernah terjadi di Bogor pada April 2020.
Kondisi Terkini Erupsi Anak Krakatau, Terdengar Dentuman dari Pos Pasauran

Berdasarkan pantauan instrumen BMKG, tidak ditemukan aktivitas seismik yang signifikan pada jalur Sesar Lembang saat suara dentuman terdengar. Citra satelit Himawari juga menunjukkan kondisi cuaca di Jawa Barat terpantau cerah tanpa adanya pengumpulan awan konvektif tebal maupun aktivitas petir di Bandung Raya. Sebaliknya, konsentrasi petir (thunderstorm) terpantau sangat dominan di sekitar kawasan Krakatau.
Meski demikian, BMKG mencatat adanya kejanggalan jalur perambatan jika suara tersebut murni berasal dari Anak Krakatau. Warga di kawasan Banten dan Jakarta yang secara geografis berada lebih dekat dengan Selat Sunda tidak melaporkan adanya suara dentuman. Menanggapi anomali ini, BMKG turut menelusuri literatur ilmiah terkait potensi pelepasan gas metana dari cekungan Danau Purba Bandung sebagai pemicu alternatif fenomena dentuman di wilayah tersebut.






