Erupsi Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda yang terjadi sejak 5 September 2026 sempat melumpuhkan mobilitas udara di sejumlah wilayah. Sebaran abu vulkanik memaksa penutupan delapan bandara dan menyebabkan 1.558 penerbangan tertunda. Kendati memicu gangguan operasional maskapai dan penumpang, dampaknya terhadap laju pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III-2026 diproyeksikan tetap minim.
Berdasarkan simulasi model Computable General Equilibrium (CGE) yang dihitung oleh Kepala Pusat Riset Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 0,003 poin persentase. Perhitungan ini mengasumsikan gangguan penerbangan berlangsung selama sepekan dan separuh dari aktivitas ekonomi yang terdampak kembali pulih sebelum akhir September 2026.
Dalam skenario gangguan sepekan tersebut, laju pertumbuhan ekonomi nasional yang semula diproyeksikan berada di angka 5% akan terkoreksi tipis menjadi sekitar 4,997%. Namun, apabila masa gangguan meluas hingga tiga pekan dengan tingkat pemulihan hanya 20%, tekanan pelemahan pertumbuhan ekonomi berpotensi melebar menjadi sekitar 0,015 poin persentase.
Penampakan Beras Fortifikasi Penuhi Ritel Modern, Dipatok Harga Segini

Penyaluran Dampak Sektoral dan Kondisi Terkini
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menyampaikan bahwa dampak ekonomi akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terkonsentrasi pada sektor transportasi dalam jangka pendek. Jika gangguan berlangsung berlarut-larut, dampaknya dapat merembet ke sektor logistik. Kendati demikian, Faisal memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026 masih sanggup bertahan di kisaran 5%.
Keterbatasan efek rambatan ini juga dipengaruhi oleh struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) kuartal II-2026, kontribusi sektor transportasi dan pergudangan tercatat sebesar 6,16%, sedangkan sektor akomodasi serta penyediaan makan dan minum menyumbang 2,77%.
Siang Ini Status Anak Krakatau Masih Siaga III, Gempa Tetap Tinggi

Porsi terbesar pembentuk PDB nasional masih ditopang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 18,50%, sektor pertanian sebesar 13,57%, serta perdagangan sebesar 13,02%. Aktivitas pada sektor-sektor penopang utama tersebut relatif tidak terdampak langsung oleh kendala penerbangan jangka pendek.
Risiko perlambatan ekonomi lebih lanjut diperkirakan mereda seiring meredanya aktivitas vulkanik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 7 September 2026 melaporkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau sudah mereda.






