Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemeriksaan kesiapsiagaan tsunami di sejumlah wilayah pesisir Provinsi Banten. Langkah peninjauan lapangan ini difokuskan di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon dengan mengacu pada indikator standar Tsunami Ready, menyusul peningkatan aktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau.
Eskalasi aktivitas Gunung Anak Krakatau tercatat sempat mengalami erupsi yang berlangsung selama sekitar 25 jam pada akhir pekan. Hingga kini, gunung api di Selat Sunda tersebut masih terus melepaskan abu, lelehan lava, dan material pijar secara berkala. Menanggapi situasi tersebut, tim Kedeputian Bidang Pencegahan BNPB diterjunkan sejak 6 September 2026 untuk mendampingi pemerintah daerah, memantau wilayah pesisir terdampak, serta memberikan asistensi teknis kesiapsiagaan.
Bagaimana Kondisi Kesiapsiagaan di Pandeglang, Serang, dan Cilegon?
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa penilaian kesiapsiagaan dilakukan untuk memastikan keandalan sarana peringatan dini bencana tsunami di tingkat tapak.
Di Kabupaten Pandeglang, penilaian kesiapsiagaan menyasar kawasan Tanjung Lesung, Desa Sumberjaya, dan Desa Panimbangjaya. BNPB mencatat bahwa menara sirene peringatan dini di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Panimbang berada dalam kondisi siap operasi. Selain itu, jalur evakuasi warga sudah terpasang dengan baik dan agenda simulasi bencana rutin diselenggarakan oleh masyarakat bersama pihak terkait. Meski demikian, perangkat Warning Receiver System (WRS) Gen yang berada di kawasan Tanjung Lesung dilaporkan masih dalam tahap perbaikan.
Kebakaran Dapur Gizi RSUD Saiful Anwar Malang, Asap Sempat Masuk Ruang Anak

Di Kabupaten Serang, pemeriksaan dilakukan di Desa Salira, Desa Karang Suraga, dan Desa Anyar. BNPB mencatat keberadaan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) serta jaringan relawan pantai aktif menjalankan fungsinya. Kesiapan warga di wilayah ini turut didukung oleh menara sirene yang beroperasi normal serta peta evakuasi menuju titik kumpul aman yang sudah tersedia.
Sementara itu di Kota Cilegon, peninjauan lapangan difokuskan di Kelurahan Kubangsari. Dari hasil penilaian, wilayah kelurahan tersebut telah memiliki standar operasional prosedur (SOP) peringatan dini yang jelas. Fasilitator tingkat kelurahan aktif menyebarkan informasi kebencanaan kepada warga, dan unit sirene tsunami di area kantor kelurahan terbukti berfungsi dengan baik.
Mengapa Riwayat Erupsi Gunung Anak Krakatau Menjadi Perhatian?
Langkah antisipasi dan pengecekan ketat di kawasan pesisir Banten dilakukan mengingat sejarah ancaman gelombang tsunami nontektonik yang dipicu oleh aktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
BNPB Petakan Kesiapsiagaan Tsunami di Pesisir Banten

Peristiwa besar tercatat pada 22 Desember 2018, ketika erupsi Gunung Anak Krakatau memicu longsoran lereng gunung ke laut (flank collapse). Fenomena tersebut menyebabkan tsunami nontektonik yang menerjang wilayah pesisir Banten dan Lampung secara tiba-tiba tanpa didahului guncangan gempa bumi.
Selain peristiwa 2018, catatan BMKG menunjukkan kawasan Selat Sunda pernah dilanda gelombang tsunami dahsyat akibat letusan Krakatau pada tahun 1883. Letusan bersejarah tersebut memicu hempasan tsunami dengan estimasi ketinggian mencapai 30 hingga 40 meter di berbagai titik pesisir. Melalui koordinasi rutin, perawatan peralatan peringatan dini, dan edukasi jalur evakuasi, BNPB berupaya memastikan kesiapan masyarakat di sepanjang pesisir Banten tetap terjaga optimal dalam menghadapi potensi dampak erupsi yang sedang berlangsung.






