Australia mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kebakaran hutan seiring munculnya fenomena El Niño yang memicu cuaca panas dan kering ekstrem. Belajar dari rekam jejak bencana sebelumnya, otoritas di negara tetangga Indonesia tersebut mengintensifkan serangkaian langkah mitigasi sebelum ancaman meluas.
Langkah pencegahan di lapangan dijalankan oleh Forestry Corporation of New South Wales, badan usaha milik pemerintah negara bagian yang mengelola kawasan hutan negara dan kegiatan kehutanan komersial. Petugas pemadam kebakaran musiman melakukan pembakaran terkendali menggunakan obor tetes di Hutan Negara Bagian Uffington, dekat Clarence Town, guna melenyapkan tumpukan vegetasi kering yang mudah tersulut api.
BNPB Petakan Kesiapsiagaan Tsunami di Pesisir Banten

Otoritas kehutanan memperkirakan musim kebakaran kali ini berpotensi berlangsung lebih sibuk daripada biasanya. Kendati demikian, pihak berwenang menegaskan situasi saat ini masih terkendali dan masyarakat tidak perlu panik.
Komandan Sektor Forestry Corporation of New South Wales, Alex Capararo, menyampaikan bahwa tim pemadam tetap waspada penuh. Meski cuaca panas dan kering berpotensi menyulitkan penanganan, ia menilai dampaknya kemungkinan tidak akan separah bencana kebakaran "Black Summer" pada 2019–2020 yang menghanguskan wilayah seluas negara Turki serta menewaskan 33 orang.
Dito Ariotedjo Jadi Saksi Sidang Korupsi Kuota Haji Hari Ini

Berdasarkan data Biro Meteorologi Australia, puncak bahaya kebakaran hutan diproyeksikan mulai terjadi pada pertengahan Oktober di kawasan utara New South Wales dan berlanjut ke wilayah selatan pada Desember mendatang. Tren kenaikan suhu ekstrem ini sejalan dengan kondisi cuaca ekstrem di belahan bumi lain, seperti rekor musim panas terpanas di Inggris serta suhu tertinggi dalam 75 tahun terakhir di Italia yang turut diwarnai kebakaran hebat.






