Masyarakat dan pemerintah daerah di kawasan pesisir Provinsi Banten dipastikan terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman tsunami. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemetaan menyeluruh untuk memeriksa fasilitas peringatan dini, jalur evakuasi, hingga kapasitas komunitas warga di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon.
Langkah pemetaan ini dilakukan guna mengukur kesiapan seluruh unsur lokal dalam menghadapi potensi dampak dinamika aktivitas Gunung Anak Krakatau, sekaligus mengantisipasi risiko tsunami pada permukiman pesisir yang pernah terdampak bencana Selat Sunda pada 2018. Penilaian di lapangan mengacu pada indikator standar Tsunami Ready.
Hasil Pemeriksaan Fasilitas dan Jalur Evakuasi
Di Kabupaten Pandeglang, peninjauan kesiapsiagaan menyasar kawasan Tanjung Lesung, Desa Sumberjaya, dan Desa Panimbangjaya. Tim BNPB mencatat menara sirene peringatan dini di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Panimbang berada dalam status siap beroperasi, ditopang rambu jalur evakuasi yang terpasang memadai dan agenda simulasi bencana yang rutin digelar. Sementara itu, perangkat Warning Receiver System (WRS) Gen di area Tanjung Lesung dilaporkan masih menjalani tahapan perbaikan.
Kalbar Perpanjang Tanggap Darurat Asap Karhutla Sampai 20 September

Pemeriksaan di wilayah Kabupaten Serang mencakup Desa Salira, Karang Suraga, dan Desa Anyar. Di ketiga desa tersebut, keaktifan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) serta relawan pantai berjalan secara optimal, didukung ketersediaan peta evakuasi menuju titik aman serta menara sirene yang berfungsi normal.
Adapun di Kota Cilegon, peninjauan di Kelurahan Kubangsari memastikan keberadaan Standar Operasional Prosedur (SOP) peringatan dini, keandalan sirene tsunami di lingkungan kantor kelurahan, serta keaktifan fasilitator kelurahan dalam penyebarluasan informasi kedaruratan.
Kantor DPRD Manggarai Timur Tidak Layak Pakai Akibat Gempa Flores

Status Aktivitas Gunung Anak Krakatau
Upaya penguatan mitigasi di pesisir barat Banten berlangsung seiring pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau. BNPB mencatat dampak erupsi gunung api tersebut mencakup 15 kecamatan di wilayah Banten dan Lampung, tanpa laporan korban jiwa. Sebaran abu vulkanik terpantau bergerak ke arah Laut Hindia, dibarengi operasi modifikasi cuaca guna mengurangi konsentrasi polutan di udara.
Berdasarkan keterangan Badan Geologi, episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau saat ini telah berakhir. Kendati demikian, tingkat aktivitasnya masih ditetapkan pada Level III (Siaga) dengan potensi letusan yang tetap perlu diwaspadai oleh otoritas kebencanaan dan masyarakat pesisir.






