Sebanyak 21 individu orangutan di Kalimantan Tengah dilaporkan terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan kabut asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Saat ini, satwa-satwa tersebut tengah menjalani perawatan intensif di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di kawasan Hutan Kota Nyaru Menteng.
CEO BOSF Jamartin Sihite menyatakan bahwa tim medis memberikan terapi nebulizer dan asupan vitamin untuk membantu memulihkan fungsi pernapasan orangutan yang sakit. Sebanyak enam dokter hewan disiagakan di Nyaru Menteng untuk menangani kondisi darurat ini.
Pihak BOSF menilai jumlah tenaga medis yang tersedia saat ini masih mencukupi, namun pihaknya akan segera menghubungi Kementerian Kehutanan jika memerlukan dukungan personil tambahan dalam menangani dampak karhutla tersebut.
Korban Gempa NTT Sambut Bantuan Kemanusiaan yang Datang

Di sisi lain, upaya perlindungan satwa liar di alam bebas juga berjalan seiring koordinasi antara BOSF dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng). Kepala Balai KSDA Kalteng Andi Muhammad Khadafi menyampaikan bahwa tim gabungan bersama organisasi non-pemerintah berfokus memastikan setiap orangutan yang terdampak karhutla pulih sepenuhnya sebelum dikembalikan ke habitat alaminya.
Sejauh ini, tim di lapangan telah mengevakuasi lima individu orangutan liar dari ancaman karhutla. Dua di antaranya adalah induk dan anak bernama Raya dan Rayu, yang diselamatkan dari kepungan kebakaran di kawasan Hutan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, pada 2 September 2026.
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Penyeberangan Bakauheni-Merak Dipastikan Tetap Normal

Pasangan induk dan anak tersebut kemudian berhasil ditranslokasi pada Jumat (4/9/2026). Berdasarkan hasil observasi medis BKSDA Kalteng, kelima orangutan yang dievakuasi berada dalam kondisi sehat dan dinyatakan siap untuk dilepasliarkan kembali.






