PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada paruh pertama tahun ini. Perseroan berhasil membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp31,2 triliun pada Triwulan II 2026, mencerminkan pertumbuhan 17,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pencapaian laba tersebut sejalan dengan ekspansi bisnis yang tetap terukur di tengah pengelolaan risiko pembiayaan yang lebih ketat.
Perkembangan ini memperlihatkan perbaikan yang nyata jika dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Selain pertumbuhan laba, kualitas aset perseroan menunjukkan tren positif. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) BRI tercatat turun menjadi 2,9 persen pada akhir Triwulan II 2026, membaik dari posisi 3,0 persen pada Triwulan II 2025.
Kualitas Kredit dan Risiko Membaik
Perbaikan indikator risiko kredit juga terlihat pada rasio Loan at Risk (LaR). Pada akhir Triwulan II 2026, LaR BRI melandai ke level 9,1 persen, turun dari posisi 9,6 persen pada penutupan tahun 2025. Bersamaan dengan itu, efisiensi pencadangan tecermin dari Cost of Credit (CoC) yang menyusut menjadi 3,1 persen, lebih rendah dibandingkan 3,4 persen pada Triwulan II 2025.
Pertamina Kenalkan Dual Growth Strategy dan Transisi Energi di IdeaFest 2026

Di sisi intermediasi, penyaluran kredit BRI mencapai Rp1.646 triliun atau naik 16,2 persen YoY hingga Triwulan II 2026. Pertumbuhan pembiayaan tersebut menopang kenaikan total aset BRI Group yang menembus Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Manajemen Risiko BRI, Ety Yuniarti, menyampaikan bahwa laju kinerja ini merupakan hasil dari penerapan strategi pertumbuhan selektif (selective growth). Bank memfokuskan ekspansi pembiayaan ke segmen, sektor usaha, dan profil nasabah yang terukur, dengan sektor UMKM tetap menjadi pilar bisnis utama (core business).
Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul Bekali Pelaku Usaha agar Jamu Makin Dikenal

Untuk menjaga kualitas portofolio secara berkesinambungan, BRI menjalankan mitigasi risiko terintegrasi dari hulu ke hilir (end-to-end). Pengelolaan tersebut mencakup proses pipeline akuisisi dan seleksi calon debitur, pemantauan kualitas kredit secara berkala, hingga penanganan penagihan (collection) dan pemulihan aset (recovery).






