Bank of Korea (BOK) secara terbuka menyatakan adanya peluang kenaikan suku bunga acuan lanjutan dalam waktu dekat. Sikap kebijakan moneter ini mencuat seiring dengan laju inflasi di Korea Selatan yang masih bertengger di atas target sasaran bank sentral, sementara pada saat yang sama pertumbuhan ekonomi nasional berjalan lebih kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Pernyataan dan sinyal mengenai potensi pengetatan moneter ini mengemuka menjelang agenda rapat kebijakan moneter Bank of Korea yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 27 Agustus mendatang.
Menanggapi dinamika perekonomian domestik saat ini, Wakil Gubernur Senior Bank of Korea Kwon Min-soo memberikan pandangan mengenai pertimbangan otoritas moneter dalam menentukan arah kebijakan. Pada Jumat (21/8/2026), Kwon Min-soo menyampaikan kepada wartawan bahwa tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta stabilitas keuangan merupakan pertimbangan utama dalam memformulasikan kebijakan moneter. Ia secara tegas menekankan bahwa saat ini merupakan momentum untuk mengambil keputusan kebijakan dengan sangat hati-hati, sekaligus tetap bersikap fleksibel jika memang diperlukan.
Terkait arah pendekatan moneter yang akan ditempuh ke depan, Kwon Min-soo secara gamblang menolak untuk diberi label tertentu, baik sebagai pejabat yang berpandangan agresif (hawkish) maupun yang berpandangan longgar (dovish). Dirinya menegaskan komitmen untuk merumuskan dan menetapkan setiap langkah kebijakan secara fleksibel berdasarkan perkembangan data riil. Sikap berbasis data tersebut dinilai esensial agar bank sentral dapat merespons dinamika kondisi perekonomian secara tepat dan proporsional.
Oona Insurance (ABDA) Catat Pertumbuhan Premi 40%

Fokus perhatian otoritas moneter saat ini tertuju pada dinamika inflasi dan performa sektor riil di Korea Selatan. Tekanan inflasi masih menjadi perhatian karena realisasi inflasi Korea Selatan masih berada di atas target 2 persen yang ditetapkan bank sentral. Di sisi lain, pemulihan ekonomi berlangsung lebih kuat dari perkiraan, di mana kinerja positif tersebut antara lain didukung oleh pemulihan dan kontribusi sektor semikonduktor. Kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang solid dan tekanan inflasi yang masih berada di atas target membuka ruang bagi Bank of Korea untuk mempertimbangkan penyesuaian suku bunga lanjutan.
Wacana kenaikan suku bunga lanjutan ini menyusul langkah pengetatan yang telah diputuskan pada bulan Juli lalu. Pada periode tersebut, Bank of Korea telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75 persen dari sebelumnya 2,50 persen. Penyesuaian pada bulan Juli itu tercatat sebagai kenaikan suku bunga acuan pertama yang dilakukan oleh bank sentral dalam kurun waktu 3,5 tahun. Kendati demikian, Kwon Min-soo mengingatkan bahwa penaikan suku bunga memiliki manfaat sekaligus efek samping terhadap perekonomian, sehingga setiap langkah kebijakan harus ditimbang secara cermat.
BSI Bukukan Laba Rp4,15 Triliun pada Semester I-2026 Ditopang Pertumbuhan Bisnis Emas

Selain indikator inflasi dan pertumbuhan domestik, pergerakan nilai tukar serta faktor eksternal turut diperhitungkan dalam perumusan kebijakan moneter Bank of Korea. Mata uang won tercatat telah menguat tajam sejak bulan lalu hingga mendekati level tertinggi dalam 11 bulan. Kwon Min-soo menilai bahwa volatilitas pergerakan mata uang beserta berbagai faktor eksternal tetap perlu diperhitungkan dalam menentukan arah kebijakan moneter guna menjaga stabilitas perekonomian secara menyeluruh.






