Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan memburuk hingga mencapai level sangat tidak sehat hingga berbahaya. Kondisi penurunan kualitas udara yang signifikan ini terutama terpantau di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan memaparkan bahwa di Kalimantan Barat terdapat 30 titik api dengan indeks kualitas udara berada pada kategori berbahaya. Jarak pandang di lokasi tersebut bahkan turun drastis hingga di bawah 1 kilometer. Sementara di Kalimantan Tengah, terpantau 63 titik api dengan kualitas udara yang secara umum sangat tidak sehat dan visibilitas terbatas sekitar 2 kilometer, meski aktivitas masyarakat dan kegiatan belajar mengajar dilaporkan masih berjalan normal.
Kebakaran pada lahan gambut yang disertai hembusan angin kencang menjadi faktor utama cepatnya kobaran api menyebar. Karakteristik gambut membutuhkan proses pendinginan berulang serta pasokan air dalam jumlah besar, sehingga petugas di lapangan kerap menghadapi hambatan berupa visibilitas rendah, kebakaran bawah tanah yang sulit dipadamkan, dan terbatasnya sumber air di sekitar titik api.
Wetonan sebagai Ajang Detoksifikasi Digital dan Ruang Jeda Spiritual Tradisi Jawa

Untuk menangani situasi tersebut, Satuan Tugas (Satgas) Darat dikerahkan ke 13 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah, meliputi Palangkaraya, Kotawaringin Timur, Seruyan, Katingan, Kapuas, Barito Utara, Pulang Pisau, Lamandau, Kotawaringin Barat, Barito Selatan, Murung Raya, Gunung Mas, dan Barito Timur. Dari pengerahan ini, lebih dari 87 hektare lahan berhasil dipadamkan. Fokus kekuatan personel dan peralatan saat ini diarahkan untuk menuntaskan 23 titik yang belum padam di Palangkaraya, dengan perhatian khusus pada area Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Kapuas.
Upaya pemadaman di Kalimantan Barat mencatatkan area padam seluas 262 hektare oleh Satgas Darat. Penanganan jalur udara juga dikerahkan melalui lima helikopter pengebom air (water bombing) yang telah menjatuhkan 724.000 liter air. Selain operasi pemadaman, satu sorti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sempat dijalankan dengan menebar 800 kilogram bahan semai di bagian selatan Kotawaringin Timur, kendati hujan masih sulit dipicu.
Saat Status Gunung Sinabung Naik ke Level III, Erupsi hingga Warga Dievakuasi

BNPB kini menunggu rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi kemunculan awan hujan sporadis periode 1–7 September guna memaksimalkan operasi modifikasi cuaca lanjutan. Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup bersama instansi terkait mengambil langkah penegakan hukum melalui pengawasan kepatuhan korporasi, penyegelan lokasi terbakar, pemberian sanksi administratif, hingga ancaman pencabutan izin usaha bagi pelaku pembakaran.






