Pemerintah Iran menetapkan penghentian total perang di kawasan Timur Tengah sebagai syarat mutlak bagi pembukaan kembali akses pelayaran penuh di Selat Hormuz kepada pihak Amerika Serikat.
Tokoh senior Iran Mohsen Rezaei menegaskan bahwa kesepakatan apa pun dengan Washington terkait jalur perairan strategis tersebut wajib mencakup penghentian operasi militer dan pertempuran di Gaza, Lebanon, serta Suriah. Teheran saat ini hanya mengizinkan koridor transit yang bersifat sementara dan terbatas bagi kapal-kapal komersial yang melintas.
Sebelumnya, Iran dan Oman telah membahas rancangan pembentukan jalur pelayaran bersama sementara sekaligus menyepakati misi pembersihan ranjau laut di koridor vital minyak global tersebut. Kendati demikian, prospek perundingan bilateral dengan Washington kian meredup. Laporan The Wall Street Journal menyebut Presiden AS Donald Trump sudah tidak lagi berminat melanjutkan kerangka kesepakatan damai bulan Juni yang sempat meredakan ketegangan militer kedua belah pihak.
Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan, Ini Biaya yang Bikin Maskapai Boncos

AS sendiri mengubah fokus tekanannya dengan meluncurkan kampanye "economic D-Day" pada Senin lalu, yang mengancam sanksi keras terhadap negara mana pun yang tetap menjalankan transaksi bisnis dengan Teheran.
Di sektor keamanan maritim, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper menyatakan pasukannya turut aktif membersihkan ranjau di Selat Hormuz. Operasi pengawalan CENTCOM tercatat telah memfasilitasi pergerakan sekitar 1.500 kapal komersial serta aliran 750 juta barel minyak mentah selama beberapa bulan terakhir.
Rusia Tutup Konsulat Jerman Terkait Insiden Drone di Leipzig

Penyusutan lalu lintas laut di selat tersebut masih sangat signifikan. Berdasarkan data pelacakan maritim Kpler, hanya ada lima kapal yang berlayar melintasi Selat Hormuz pada hari Selasa, turun tajam dari rata-rata 130 kapal per hari sebelum eskalasi konflik pecah pada Februari.






