Langkah Beijing dalam mengamankan pasokan energi strategis kian terlihat nyata di tengah eskalasi konflik geopolitik internasional. Sebelum Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran, pemerintah China secara bertahap telah menghabiskan waktu bertahun-tahun serta dana puluhan miliar dolar AS untuk membangun timbunan cadangan minyak mentah terbesar di dunia.
Para analis memperkirakan total cadangan minyak strategis China kini berada di kisaran 1 miliar hingga 1,4 miliar barel, atau setara dengan kebutuhan sekitar 120 hari impor. Pada tahun lalu, volume cadangan minyak Negeri Tirai Bambu tersebut ditaksir berukuran hampir 600 juta barel lebih besar dibandingkan cadangan strategis milik Amerika Serikat.
Akumulasi pasokan dalam jumlah masif ini dijalankan secara terencana. Mulai 2024, China mempercepat penimbunan minyak hingga 1,2 juta barel per hari. Pengumpulan ini memanfaatkan armada bayangan untuk memborong minyak mentah dengan harga diskon dari Rusia dan Iran yang tengah dikenai sanksi internasional.
Langkah penimbunan raksasa tersebut menjadi bantalan utama Beijing dalam menghadapi gejolak pasokan. Selama ini, China menggantungkan 70% kebutuhan minyak mentahnya dari impor, dengan mayoritas kargo harus berlayar melewati Selat Malaka. Jalur pelayaran sempit ini dianggap sebagai titik rawan logistik maritim yang rentan mengalami gangguan, serupa dengan Selat Hormuz di Timur Tengah.
UMKM Terdampak Kebakaran Desa Sade Bakal Dapat Bantuan

Kesiapan cadangan tersebut membuat Beijing relatif tenang saat krisis pasokan global membayangi. Sarjana di Center on Global Energy Policy Columbia University, Erica Downs, mengungkapkan bahwa internal China memperlihatkan ketenangan sejak awal eskalasi. Menurutnya, hampir sejak hari pertama muncul keyakinan di internal pemerintah bahwa mereka mampu mengelola situasi tersebut tanpa perlu panik.
Penilaian serupa diutarakan oleh Kepala Penelitian Energi China di Oxford Institute for Energy Studies, Michal Meidan. Ia menegaskan bahwa persepsi kerentanan energi China kini telah berubah drastis, sembari menyatakan bahwa minyak bukan lagi menjadi titik lemah atau tumit Achilles bagi Beijing sebagaimana diperkirakan banyak pihak sebelumnya.
Kekuatan cadangan itu langsung difungsikan untuk menstabilkan konsumsi domestik. Penarikan cadangan minyak menyumbang sekitar separuh dari penurunan volume impor minyak mentah China, yang tercatat merosot 23% pada periode Maret hingga Juli dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Putra Netanyahu yang Hidup Mewah di AS Dievakuasi Darurat ke Israel

Selain menyerap stok cadangan, Beijing memperketat distribusi bahan bakar olahan ke luar negeri guna menjaga stabilitas dalam negeri. Pada kuartal kedua, ekspor bensin China anjlok 93%, ekspor solar berkurang 25%, dan ekspor bahan bakar jet menyusut hingga 50%.
Strategi pertahanan energi ini juga ditopang oleh percepatan transisi energi domestik. Pembangkit energi terbarukan saat ini telah menyumbang sekitar dua perlima dari total produksi listrik nasional China. Di sektor transportasi, setengah dari total mobil baru yang terjual di China tahun ini merupakan kendaraan energi baru (NEV). Perubahan pola konsumsi ini tecermin dari mobilitas jalan raya yang turun 2%, berbanding terbalik dengan mobilitas penumpang kereta api yang naik 4%.
Meski demikian, guncangan di sektor energi tetap memberikan tekanan terhadap aktivitas manufaktur. Kepala Ekonom China di Macquarie, Larry Hu, memperkirakan sekitar 90% dari perlambatan produksi industri China pada kuartal kedua berkaitan erat dengan rantai pasok industri minyak dan petrokimia, yang terimbas oleh lonjakan harga bahan baku serta penurunan permintaan.






