Berita Viral Terkini

Dampak Buruk Pemimpin Terlalu Baik terhadap Standar Kinerja Tim

Togar SiregarPublished 26 Jul 2026 - 21.570 Reads
Bagikan WhatsAppX
Dampak Buruk Pemimpin Terlalu Baik terhadap Standar Kinerja Tim
Foto/Ilustrasi: kumparan.com.
A-A+

Banyak tempat kerja kerap menghadapi fenomena unik ketika atasan sedang mengambil cuti atau tidak berada di kantor. Kedisiplinan yang biasanya terjaga tiba-tiba mengendur, terlihat dari jam masuk yang bergeser lebih siang, tenggat waktu yang merenggang, hingga jadwal rapat yang tertunda. Situasi ini sejatinya bukan sekadar hilangnya etos kerja para karyawan secara mendadak. Hal tersebut justru menjadi cerminan bahwa perilaku manusia di lingkungan profesional sangat bergantung pada penegakan batas-batas yang konsisten. Di sinilah muncul urgensi untuk memahami perbedaan mendasar antara gaya kepemimpinan yang sekadar ingin disukai atau nice leadership, dengan kepemimpinan yang benar-benar peduli pada pertumbuhan tim atau kind leadership.

Banyak pemimpin perusahaan yang keliru menyamakan kedua konsep tersebut. Dalam praktiknya, sosok atasan yang terlalu baik sering kali memilih diam saat melihat penurunan performa bawahan. Mereka menghindari teguran dengan alasan tidak ingin merusak suasana kerja yang sudah terasa nyaman atau khawatir dianggap terlalu keras oleh timnya. Sikap kompromi ini membuat evaluasi jarang dilakukan dan tenggat waktu terus dimaklumi. Akibatnya, karyawan yang bekerja keras pada akhirnya mendapatkan perlakuan yang sama dengan mereka yang berulang kali melakukan kesalahan operasional.

Dampak paling merugikan dari keengganan menegakkan standar ini justru tidak dialami oleh para pelanggar aturan. Perubahan negatif pertama kali akan menghantam mental para pekerja yang selama ini paling disiplin di dalam tim. Ketika seorang anggota terus-menerus terlambat menyerahkan tugas dan hanya mendapat respons penenang dari atasan, para pekerja disiplin ini perlahan akan berhenti mengingatkan rekan mereka. Mereka merasa teguran antar-kawan tidak akan membawa perubahan apa pun selama sang pemimpin sendiri enggan bertindak tegas. Pada titik ini, batas antara perilaku yang bisa diterima dan yang tidak menjadi kabur, sehingga standar kinerja tim secara keseluruhan merosot tajam.

Also Read

Dampak Penggunaan Gawai Berlebihan terhadap Keterlambatan Bicara Anak Usia Dini

Kenyataan di lapangan ini berbanding lurus dengan temuan global terkait tingkat keterikatan karyawan. Berdasarkan laporan Gallup dalam State of the Global Workplace 2024, tercatat hanya sekitar 23 persen pekerja di seluruh dunia yang benar-benar merasa terikat atau engaged dengan pekerjaan mereka. Faktor utama yang secara konsisten memengaruhi keterikatan ini adalah kualitas hubungan dengan atasan. Data tersebut membuktikan bahwa karyawan tidak sekadar membutuhkan apresiasi atau suasana yang serba memaklumi. Mereka justru sangat membutuhkan arah, kejelasan ekspektasi, umpan balik yang jujur, serta dukungan nyata untuk bisa berkembang secara profesional.

Meski demikian, mengubah gaya kepemimpinan bukan berarti harus berbalik menjadi sosok yang kejam atau mengandalkan intimidasi. Lingkungan kerja yang dipenuhi rasa takut memang bisa meningkatkan kepatuhan dan kehati-hatian, tetapi di saat yang sama akan membunuh keberanian karyawan dalam menawarkan ide-ide baru. Kreativitas akan menurun drastis karena orang lebih memilih diam saat melihat masalah. Oleh karena itu, pendekatan yang paling ideal adalah memadukan kehangatan dalam memperlakukan manusia dengan ketegasan yang tak bisa ditawar dalam menjaga standar kerja.

Also Read

Polisi Jerman Buru Tersangka Penabrakan Parade Pride Berlin

Pemimpin yang mempraktikkan kind leadership berani mengambil jalan yang tidak nyaman demi kebaikan jangka panjang. Daripada sekadar memaklumi keterlambatan, mereka akan mengajak bawahan berdiskusi mencari akar masalah dan solusi agar kesalahan tidak terulang, meski percakapan tersebut mungkin terasa canggung pada awalnya. Sebagaimana disampaikan oleh Hayari Putri, seseorang mungkin saja melupakan seberapa ramah pemimpin mereka di masa lalu. Namun, mereka hampir selalu ingat apakah mereka bertumbuh atau justru berhenti berkembang saat bekerja bersama sosok tersebut. Ukuran sejati seorang pemimpin pada akhirnya diuji dari keberaniannya mengantarkan tim menuju potensi terbaik, bukan dari seberapa banyak orang yang menyukainya hari ini.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca