Kebijakan suku bunga acuan dari bank sentral kerap menjadi penentu arah pergerakan ekonomi nasional dan nilai tukar mata uang. Oleh karena itu, langkah Bank Indonesia (BI) dalam menentukan BI-Rate menjadi indikator penting bagi dunia usaha maupun pasar keuangan untuk mengantisipasi dinamika perekonomian ke depan.
Bank Indonesia telah melakukan pelonggaran moneter secara bertahap sejak September 2024. Sepanjang tahun 2025, bank sentral di bawah kepemimpinan Gubernur Perry Warjiyo tercatat menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali, yakni pada bulan Januari, Mei, Juli, dan Agustus. Dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada 19-20 Agustus 2025, BI memutuskan memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Langkah ini juga diikuti dengan penurunan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 5,75 persen.
Terkait kebijakan tersebut, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, menjelaskan bahwa otoritas moneter terus mencermati ruang penurunan suku bunga lebih lanjut. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Pelatihan Wartawan Media Nasional di Yogyakarta pada Jumat, 22 Agustus 2025. Langkah pelonggaran ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional agar bisa melaju lebih tinggi.
Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional Meningkat pada SNLIK 2026

Memasuki tahun berikutnya, dinamika ekonomi bergerak dinamis. Sejak Mei 2026, Bank Indonesia mengambil langkah pengetatan kembali dengan menaikkan BI-Rate secara bertahap. Total kenaikan mencapai 100 basis poin, yang membawa suku bunga acuan kembali berada di level 5,75 persen. Kenaikan ini membawa konsekuensi bagi dunia usaha, di mana Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengaku mengalami tekanan baru akibat peningkatan suku bunga acuan tersebut. Di sisi lain, kebijakan ini berjalan beriringan dengan masuknya aliran dana asing. BI mencatat bahwa hingga Juni 2026, aliran modal asing yang masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai 9 miliar dolar AS.
Perkembangan suku bunga acuan turut memberikan dampak pada fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Peneliti dari divisi Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menyatakan bahwa keputusan bank sentral memengaruhi pergerakan kurs rupiah. Sebagai gambaran, pada penutupan perdagangan hari Jumat, mata uang rupiah melemah 10 poin atau 0,06 persen ke level Rp17.804 per dolar AS dari sebelumnya di angka Rp17.794. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di level Rp17.826 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.753.
Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Airlangga Hartanto Beri Dukungan

Pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi oleh situasi geopolitik global, termasuk adanya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Faktor eksternal ini, bersama dengan kebijakan suku bunga domestik, membuat pergerakan rupiah dinamis. Rupiah sempat dibuka melemah tipis di level Rp18.075 per dolar AS pada Kamis pagi, 30 Juli. Namun, kurs rupiah kemudian bergerak menguat 37 poin ke level Rp18.074 per dolar AS pada Jumat, 31 Juli 2026. Pada perdagangan Jumat, 7 Agustus, rupiah juga mencatatkan penguatan 142 poin hingga ditutup pada level Rp17.755 per dolar AS.
Fluktuasi suku bunga dan nilai tukar tersebut menggambarkan respons kebijakan moneter terhadap kondisi global maupun domestik. Pemantauan terhadap arah suku bunga acuan tetap menjadi indikator penting dalam menyusun langkah ekonomi di tengah ketidakpastian pasar.






