Langkah tidak biasa diambil oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam upayanya menekan angka kriminalitas jalanan yang kian meresahkan di berbagai wilayah. Pria yang akrab disapa KDM ini meluncurkan sebuah sayembara unik berhadiah Rp10 juta bagi siapa saja warga yang berhasil menangkap pelaku begal. Menariknya, Dedi secara khusus menegaskan bahwa dana stimulus ini sama sekali tidak menyentuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat, melainkan murni bersumber dari dompet pribadinya sendiri. Keputusan tak taktis ini diambil sebagai bentuk intervensi cepat untuk merespons kecemasan publik sekaligus menghidupkan kembali tradisi keamanan lingkungan melalui pos ronda.
Pendekatan yang diterapkan Dedi ini sebenarnya menyasar sisi psikologis massa secara mendalam. Selama ini, kemarahan publik terhadap pelaku begal yang tertangkap sering kali berujung pada aksi main hakim sendiri yang brutal dan tidak jarang berakhir fatal bagi pelaku kejahatan. Dengan adanya iming-iming hadiah finansial yang cukup menggiurkan, Dedi berharap emosi masyarakat dapat diredam dan dialihkan menjadi tindakan yang lebih terukur. Alih-alih meluapkan amarah dengan kekerasan fisik di lokasi kejadian, warga kini memiliki alasan rasional untuk mengamankan pelaku dan membawanya ke kantor polisi terdekat demi mendapatkan insentif tersebut.
Kasus Alphard Terobos Lampu Merah Tetap Diusut Meski Sopir dan Satpam Sepakat Damai

Namun, sayembara ini bukan tanpa aturan main yang ketat karena Dedi sangat menekankan penegakan hukum yang beradab. Dedi menetapkan syarat mutlak bahwa hadiah Rp10 juta tersebut tidak akan pernah dicairkan jika pelaku diserahkan kepada aparat dalam kondisi luka parah akibat amuk massa. Batasan tegas ini dibuat untuk memastikan bahwa penegakan keamanan di tingkat akar rumput tetap berjalan secara manusiawi dan tertib. Hadiah hanya akan diberikan apabila pelaku diserahkan dalam keadaan utuh, mengalami cedera minimal yang wajar, dan telah secara resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian.
Inisiatif sayembara berhadiah ini memicu berbagai reaksi yang cukup beragam dari kalangan penegak hukum dan tokoh nasional. Kapolda Jawa Barat, Irjen Pipit Rismanto, menyambut baik dan memberikan penilaian positif terhadap langkah yang digagas oleh sang gubernur. Pihak kepolisian melihat gerakan ini sebagai stimulus yang baik untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Kendati demikian, langkah ini tidak lepas dari kritik tajam. Tokoh hukum nasional, Yusril Ihza Mahendra, secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keputusan Dedi yang menggelar sayembara berhadiah uang tunai untuk menangkap pelaku begal.
Menteri Pertanian Siapkan Nama Calon Wakil Menteri Baru Pendampingnya

Melalui program inovatif ini, Dedi Mulyadi mencoba memanfaatkan kecenderungan sosial masyarakat Indonesia yang terbiasa menghargai prestasi melalui apresiasi terbuka. Sistem insentif ini dianalogikan seperti pemberian peringkat di sekolah atau penghargaan dalam perlombaan daerah yang dapat memicu semangat warga untuk lebih proaktif menjaga lingkungan mereka. Kini, efektivitas dari sayembara dari kantong pribadi ini akan diuji di lapangan, apakah metode ini mampu menekan angka pembegalan sekaligus mendisiplinkan warga agar tidak lagi main hakim sendiri saat berhadapan dengan pelaku kriminal di jalanan.






