Berita Viral Terkini
BerandaHukumPolitikEkonomiPemerintahanBisnisSosialPeristiwaNasionalMegapolitanInternasionalOlahragaOtomotifPariwisataTeknologiWisataKesehatanHiburanMetroKriminalMetropolitanLingkunganPendidikanKebudayaanMusikGaya HidupTransportasiKeuanganSainsEdukasiManajemenReligiBerita NasionalBerita DaerahBerita BudayaHukum & KriminalBeritaKetenagakerjaanPertanianEkonomi dan BisnisEkonomi & BisnisPopuler
Beranda/Politik

Desakan Penyelidikan Projustisia Mengemuka Setelah Tiga Dekade Tragedi Kudatuli

Yolanda TobanDiterbitkan 28 Jul 2026 - 02.19 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Desakan Penyelidikan Projustisia Mengemuka Setelah Tiga Dekade Tragedi Kudatuli
Foto/Ilustrasi: cnnindonesia.com.
A-A+

Peringatan tiga puluh tahun peristiwa penyerbuan kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia atau yang dikenal sebagai tragedi Kudatuli pada 27 Juli 1996 kembali memicu desakan penegakan hukum. Dalam siaran pers pada Senin, 27 Juli, Amnesty International Indonesia menilai negara hingga kini belum menghadirkan keadilan yang nyata bagi para korban maupun keluarga korban peristiwa kelam di era Orde Baru tersebut. Situasi yang dinilai melanggengkan impunitas ini mendorong munculnya tuntutan baru agar Komisi Nasional Hak Asasi Manusia segera mengambil langkah konkret dengan membuka penyelidikan projustisia.

Berita Viral Terkini

Copyright 2026 Berita Viral Terkini - All Rights Reserved.

Kategori

HukumPolitikEkonomiPemerintahanBisnisSosialPeristiwaNasionalMegapolitanInternasionalOlahragaOtomotifPariwisataTeknologiWisataKesehatanHiburanMetroKriminalMetropolitanLingkunganPendidikanKebudayaanMusikGaya HidupTransportasi

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menyatakan bahwa langkah hukum mendesak dilakukan karena adanya indikasi fakta baru mengenai keberadaan lokasi kuburan jenazah korban Kudatuli yang tidak dikenal. Menurutnya, investigasi menyeluruh terhadap makam-makam tanpa identitas dari kerusuhan tahun 1996 tersebut dapat menjadi bukti kunci untuk mengonfirmasi keberadaan korban di luar data resmi yang selama ini tercatat. Oleh karena itu, Komnas HAM diminta menjalankan mandat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM secara transparan dan mempublikasikan perkembangannya kepada masyarakat. Selain itu, Dewan Perwakilan Rakyat juga didesak segera mengambil peran dengan mengusulkan pembentukan Pengadilan HAM ad hoc untuk kasus tersebut.

Baca Juga

Kemarau Buat Air Bendungan Karian Surut, Bekas Permukiman Warga di Lebak Muncul Lagi

Kemarau Buat Air Bendungan Karian Surut, Bekas Permukiman Warga di Lebak Muncul Lagi

Desakan serupa disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dalam acara peringatan tiga puluh tahun peristiwa Kudatuli pada Minggu, 26 Juli. Hasto meminta pemerintah menggelar kembali penyelidikan yustisial serta pengadilan koneksitas guna mengungkap dalang di balik peristiwa yang memakan korban jiwa tersebut. Ia menekankan bahwa negara memiliki utang kepada masyarakat untuk menjawab siapa perancang pembunuhan demokrasi dan ke mana perginya para korban yang hilang. Mengutip pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Hasto menegaskan tuntutan ini bukan didasari dendam, melainkan kewajiban moral negara berpancasila. Ia menyebut luka Kudatuli bukan sekadar luka partai, melainkan luka Republik Indonesia akibat kekuasaan yang menindas di masa lalu.

Peristiwa Kudatuli merujuk pada penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta Pusat, di bawah masa kepresidenan Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto. Saat itu, kantor yang dikendalikan oleh pendukung Megawati Soekarnoputri berdasarkan hasil Kongres Surabaya 1993 diserbu oleh kelompok pendukung Soerjadi berdasarkan hasil Kongres Medan 1996. Terkait dampak peristiwa, terdapat perbedaan catatan antara lembaga negara dan laporan independen. Komnas HAM menyimpulkan adanya enam bentuk pelanggaran HAM serius, termasuk pelanggaran atas kebebasan berkumpul dan berserikat, kebebasan dari rasa takut, kebebasan dari perlakuan keji, serta perlindungan jiwa dan harta benda, dengan rincian lima orang tewas, 149 orang luka-luka, dan 23 orang hilang. Sementara itu, laporan awal Amnesty International pada 30 Juli 1996 mencatat 206 hingga 241 orang ditangkap aparat keamanan, sedikitnya 90 orang luka-luka, lima hingga tujuh orang dilaporkan meninggal, serta klaim PDI mengenai 28 orang yang masih belum ditemukan di luar mereka yang berada di rumah sakit, ditahan, atau bersembunyi.

Baca Juga

Penyelidikan Kematian Sutrimo di Halaman Klinik Mordent Kebayoran Baru

Penyelidikan Kematian Sutrimo di Halaman Klinik Mordent Kebayoran Baru

Upaya hukum yang pernah ditempuh pemerintah melalui pengadilan koneksitas pada rentang tahun 2002 hingga 2003 dinilai belum menyeluruh karena hanya menghadirkan para terdakwa yang bertanggung jawab di tingkat lapangan. Berdasarkan pemberitaan pada masa itu, pengadilan menjatuhkan vonis dua bulan sepuluh hari penjara kepada seorang warga sipil bernama Jonathan Marpaung yang terbukti mengerahkan massa dan melempar batu ke kantor PDI. Sebaliknya, dua perwira militer yang disidang, yaitu Budi Purnama dan Suharto, justru divonis bebas. Usman Hamid mengingatkan bahwa membiarkan kasus ini tetap mengambang sama artinya dengan membiarkan negara terus melanggengkan impunitas dan secara sadar mengubur keadilan bagi para korban.

Ikuti Berita Viral Terkini

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

PDIPAmnesty InternationalKudatuliOrde BaruKomnas HAMPelanggaran HAM

Berita Terbaru Lainnya

Al-Hilal Siapkan Rp1,4 Triliun untuk Luis D铆az, Bayern Muenchen Menolak KerasMahasiswa Fasilkom UI Kembangkan Tofly, Platform Persiapan TOEFL ITP Berbasis AIPhiladelphia 76ers Resmi Rekrut Kentavious Caldwell-Pope dengan Kontrak Satu MusimJadwal Samsat Keliling Jadetabek 29 Juli 2026 dan Info Pajak KendaraanJadwal Perempat Final VNL 2026 Putra 29 Juli, Slovenia vs Turki dan Jepang vs CinaJadwal MLS All Stars vs Liga MX All Stars 2026 dan Alasan Absennya Lionel MessiDBS Intip Peluang Investasi dari Lonjakan Belanja Modal AI dan EnergiBursa Saham Asia-Pasifik Menguat Jelang Pengumuman Suku Bunga The Fed

Paling Banyak Dibaca

Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi Pesawat

Ekonomi

Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi Pesawat

25 Jul 2026

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPK

Hukum

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPK

25 Jul 2026

Caitlin Clark Menulis Ulang Sejarah dan Mengubah Wajah WNBA

Olahraga

Caitlin Clark Menulis Ulang Sejarah dan Mengubah Wajah WNBA

25 Jul 2026

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

Teknologi

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

25 Jul 2026

Mengatasi Ancaman Downtime Sektor Manufaktur dengan Solusi Hybrid Cloud

Teknologi

Mengatasi Ancaman Downtime Sektor Manufaktur dengan Solusi Hybrid Cloud

25 Jul 2026

Politisi Senior Gerindra dr Sumarjati Arjoso Meninggal Dunia

Politik

Politisi Senior Gerindra dr Sumarjati Arjoso Meninggal Dunia

25 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi PesawatEkonomi 路 25 Jul 2026
  2. 2Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPKHukum 路 25 Jul 2026
  3. 3Caitlin Clark Menulis Ulang Sejarah dan Mengubah Wajah WNBAOlahraga 路 25 Jul 2026
  4. 4Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025Teknologi 路 25 Jul 2026
  5. 5Mengatasi Ancaman Downtime Sektor Manufaktur dengan Solusi Hybrid CloudTeknologi 路 25 Jul 2026
Keuangan
Sains
Edukasi
Manajemen
Religi
Berita Nasional
Berita Daerah
Berita Budaya
Hukum & Kriminal
Berita
Ketenagakerjaan
Pertanian
Ekonomi dan Bisnis
Ekonomi & Bisnis

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap