Ajang bergengsi Jogja Fashion Week 2026 tidak hanya menjadi wadah untuk menampilkan keindahan karya para perancang busana di atas panggung, tetapi juga menjadi momentum penting bagi Program Studi Rekayasa Tekstil Universitas Islam Indonesia (UII). Melalui keikutsertaannya dalam Jogja Fashion Week 2026 tersebut, Program Studi Rekayasa Tekstil UII berupaya memperkenalkan sisi lain dari industri tekstil yang selama ini jarang diketahui oleh masyarakat luas. Di balik gemerlapnya busana yang tampil di atas runway, industri tekstil sebenarnya tengah menghadapi tantangan besar terkait ketersediaan sumber daya manusia. Sektor industri ini secara aktif terus mencari dan membutuhkan tenaga ahli baru untuk mendukung keberlanjutan operasional mereka.
Tingginya kebutuhan akan talenta terampil ini sangat berkaitan erat dengan perkembangan industri tekstil yang begitu pesat di wilayah Jawa Tengah. Kepala Program Studi Rekayasa Tekstil Universitas Islam Indonesia (UII), Rina Afiani Rebia, menjelaskan bahwa dinamika perkembangan industri di Jawa Tengah tersebut memicu lonjakan kebutuhan terhadap tenaga kerja ahli di bidang tekstil. Saat ini, salah satu persoalan utama yang dihadapi oleh industri adalah adanya kesenjangan sumber daya manusia pada level manajerial yang benar-benar menguasai tekstil. Rina mengungkapkan bahwa pada kenyataannya, pihak industri tekstil justru aktif mengejar-ngejar pihak kampus untuk meminta lulusan agar dapat segera bekerja di perusahaan mereka.
Rencana Donald Trump Temui Kim Jong-un Akhir Tahun Ini untuk Pulihkan Hubungan

Kesenjangan sumber daya manusia di tingkat manajerial yang benar-benar menguasai bidang tekstil ini coba dijawab melalui kurikulum pendidikan yang komprehensif di perguruan tinggi. Selama menempuh pendidikan di Program Studi Rekayasa Tekstil Universitas Islam Indonesia, para mahasiswa dibekali dengan berbagai keilmuan yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini. Mahasiswa di program studi ini mempelajari berbagai disiplin ilmu mulai dari material dan serat, manufaktur dan pengujian tekstil, kimia tekstil, teknologi nano, hingga teknologi tekstil fungsional. Penguasaan materi-materi spesifik ini mempersiapkan para lulusan agar siap mengisi kekosongan tenaga ahli yang sangat dibutuhkan oleh sektor industri tekstil saat ini.
Kondisi kekurangan talenta ahli ini membuat banyak perusahaan tekstil mengambil langkah proaktif dengan langsung menghubungi institusi pendidikan tinggi. Dosen Rekayasa Tekstil Universitas Islam Indonesia (UII), Ahmad Satria Budiman, membenarkan bahwa perusahaan-perusahaan tekstil secara rutin menghubungi pihak kampus untuk mencari dan merekrut lulusan baru. Posisi pekerjaan yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut juga sangat beragam dan bervariasi. Ahmad Satria Budiman menyebutkan bahwa posisi yang ditawarkan untuk para lulusan ini meliputi peran penting sebagai supervisor, staf ahli di bagian laboratorium, hingga posisi sebagai merchandiser di perusahaan tekstil.
Panduan Kemendikdasmen agar Pembelajaran Tetap Berjalan bagi Satuan Pendidikan Terdampak Gempa NTT

Besarnya permintaan dari sektor industri terhadap lulusan Rekayasa Tekstil UII bahkan membuat beberapa perusahaan tidak ingin menunggu hingga mahasiswa menyelesaikan masa studinya secara penuh. Sebagai langkah antisipasi untuk mengamankan talenta terbaik, terdapat beberapa perusahaan yang menawarkan program beasiswa kepada mahasiswa sejak mereka baru memasuki semester lima. Beasiswa ini diberikan dengan skema perjanjian khusus, yaitu setelah menyelesaikan pendidikan mereka, para mahasiswa tersebut akan langsung bekerja di perusahaan yang memberikan beasiswa tersebut. Program ini menjadi bukti nyata betapa krusialnya kebutuhan akan tenaga ahli rekayasa tekstil yang kompeten di tengah pesatnya perkembangan industri saat ini.






