Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan rencananya untuk kembali bertemu dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, pada akhir tahun ini. Langkah diplomasi tersebut ditujukan sebagai upaya untuk menghidupkan kembali hubungan bilateral di antara kedua pemimpin negara tersebut. Rencana pertemuan ini menjadi perkembangan terbaru yang dinilai sangat penting dalam dinamika diplomasi terkait isu nuklir di kawasan tersebut.
Rencana pertemuan penting ini dikonfirmasi secara langsung oleh Donald Trump saat dirinya mengunjungi helipad baru di Gedung Putih pada hari Rabu (19/8). Dalam kesempatan tersebut, Trump membenarkan bahwa ia akan menemui pemimpin Korea Utara tersebut. Trump juga mengungkapkan kondisi terkini dengan menyebutkan bahwa Pyongyang saat ini memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat. Di sisi lain, Trump membandingkan pendekatannya ini dengan sikapnya terhadap Iran, di mana ia membenarkan langkah kerasnya dengan alasan untuk mencegah Teheran memiliki bom nuklir.
Mengenai waktu dan lokasi pertemuan, laporan dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk melangsungkan pertemuan dengan Kim Jong-un saat melakukan perjalanan ke Shenzhen, China. Perjalanan tersebut ditujukan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang dijadwalkan berlangsung pada bulan November mendatang. Langkah ini direncanakan sebagai kelanjutan setelah sebelumnya Donald Trump bertemu dengan Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, tepatnya di Panmunjom, Korea Selatan, pada tanggal 30 Juni.
Banyak Diisi Timses, Komisi II DPR Setuju Kepala Daerah Tak Rekrut Staf Baru

Sementara itu, pihak Pyongyang memberikan tanggapan melalui pernyataan adik perempuan Kim Jong-un, yaitu Kim Yo Jong, pada hari Rabu (19/8). Kim Yo Jong menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui adanya laporan mengenai komunikasi yang terjadi antara kakaknya dan Donald Trump. Kendati demikian, Kim Yo Jong menegaskan bahwa kakaknya masih memiliki kenangan dan perasaan yang baik terhadap Donald Trump. Ia juga menambahkan bahwa hubungan antara kedua pemimpin negara tersebut saat ini tetap berjalan dengan sangat baik.
Di tengah rencana diplomasi ini, terdapat pula penyesuaian aktivitas militer di kawasan Semenanjung Korea. Pemerintah Seoul mengumumkan bahwa latihan militer tahunan bertajuk Ulchi Freedom Shield bersama Amerika Serikat akan berakhir lebih cepat dari jadwal. Latihan bersama tersebut disepakati untuk berakhir sekitar satu pekan lebih awal atas usulan dari pihak Amerika Serikat sendiri. Pihak Pentagon menyatakan bahwa pengurangan durasi latihan militer bersama tersebut tidak akan menurunkan pencapaian dari tujuan pelatihan yang telah ditetapkan oleh militer Amerika Serikat.
Pramono Anung Lantik 7 Pejabat Pemprov DKI Jakarta untuk Penyegaran Organisasi

Langkah-langkah taktis dan diplomasi ini terjadi di tengah kehadiran militer Amerika Serikat yang menempatkan sekitar 28.500 tentaranya di wilayah Korea Selatan. Situasi keamanan di semenanjung ini memang terus menjadi perhatian serius karena sejarah masa lalu. Perang Korea yang berlangsung pada tahun 1950 hingga 1953 silam diketahui hanya berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata, bukan melalui sebuah perjanjian damai yang resmi.






