Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan kinerja positif pada akhir perdagangan hari Rabu (19/8) sore. Berdasarkan data pasar yang ada, mata uang Garuda terpantau berhasil ditutup menguat ke level Rp17.840 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan sesi perdagangan sebelumnya, nilai tukar rupiah ini mengalami kenaikan sebesar 22 poin atau menguat sekitar 0,12 persen. Kenaikan ini menunjukkan adanya sentimen positif yang memengaruhi pergerakan mata uang domestik di pasar valuta asing pada pertengahan pekan ini.
Penguatan nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu sore tersebut tidak lepas dari kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral. Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan mereka, atau yang dikenal sebagai BI-Rate, di level 5,75 persen. Keputusan ini dinilai memberikan kepastian bagi para pelaku pasar. Suku bunga acuan yang tetap bertahan di level 5,75 persen tersebut menjadi salah satu pendorong utama bagi terjaganya stabilitas mata uang rupiah di hadapan dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, turut memberikan pandangannya mengenai pergerakan rupiah ini. Menurut Lukman Leong, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini didorong oleh sikap Bank Indonesia yang dinilai masih menunjukkan kecenderungan yang hawkish. Sikap hawkish dari Bank Indonesia dalam mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen tersebut memberikan dampak positif dan menjadi stimulus bagi apresiasi rupiah pada perdagangan hari Rabu sore.
Strategi Kementerian Keuangan Penuhi Kebutuhan Pembiayaan APBN 2027

Di tingkat regional Asia, sebagian besar mata uang negara-negara tetangga juga menunjukkan tren penguatan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tingkat apresiasi atau penguatan paling tinggi di antara mata uang Asia lainnya, yakni mencatatkan penguatan sebesar 1,20 persen. Langkah penguatan ini kemudian diikuti oleh yen Jepang yang mengalami kenaikan sebesar 0,32 persen. Selain itu, dolar Singapura juga menguat sebesar 0,15 persen, disusul oleh yuan China yang mengalami kenaikan sebesar 0,08 persen. Mata uang regional lainnya, yaitu ringgit Malaysia, tercatat menguat tipis sebesar 0,03 persen, sedangkan dolar Hong Kong mengalami kenaikan sebesar 0,02 persen terhadap dolar AS.
Meskipun mayoritas mata uang di kawasan Asia mengalami penguatan, terdapat satu mata uang yang justru mencatatkan pelemahan terhadap dolar AS. Peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang di kawasan Asia yang melemah pada perdagangan Rabu sore tersebut, dengan mengalami penurunan nilai sebesar 0,05 persen terhadap dolar AS. Perbedaan arah pergerakan peso Filipina ini menunjukkan dinamika yang bervariasi di pasar keuangan regional meskipun sebagian besar mata uang Asia lainnya bergerak di zona hijau bersama rupiah.
Pemanfaatan Limbah Batang Sorgum Menjadi Arang dan Briket Bernilai Ekonomi

Sementara itu, jika melihat pergerakan mata uang global lainnya di luar kawasan Asia, mayoritas juga menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Euro Eropa terpantau mengalami penguatan sebesar 0,22 persen. Di sisi lain, mata uang poundsterling Inggris juga mengalami kenaikan nilai sebesar 0,20 persen. Apresiasi juga dialami oleh dolar Kanada yang tercatat menguat sebesar 0,13 persen, diikuti oleh franc Swiss yang mengalami kenaikan sebesar 0,10 persen. Namun, tidak semua mata uang global menguat; dolar Australia justru terpantau mengalami pelemahan sebesar 0,12 persen terhadap dolar AS pada sesi perdagangan yang sama.






