Kelompok Tani Cahaya Harapan di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kini tengah didorong untuk memanfaatkan limbah pertanian mereka. Melalui inisiatif dari Universitas Bakti Tunas Husada (BTH), petani didorong olah limbah batang sorgum jadi arang bernilai ekonomi. Langkah ini direalisasikan melalui program hibah pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Selama ini, sisa batang sorgum setelah masa panen cenderung dibuang begitu saja atau dibakar oleh warga setempat. Tindakan tersebut tidak memberikan nilai tambah dan berpotensi menimbulkan polusi udara. Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas BTH sekaligus Ketua Tim Hibah, Ummy Mardiana, menjelaskan bahwa limbah pertanian ini sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang lebih bernilai, khususnya sebagai bahan baku pembuatan arang dan briket.
Dalam proses produksinya, para petani mendapatkan pendampingan teknis langsung dari akademisi. Hadi Yusuf Faturochman memberikan bimbingan terkait metode karbonisasi dan pembuatan briket yang tepat. Menurut penjelasannya, kunci utama dari pembuatan briket berkualitas terletak pada keberhasilan proses karbonisasi untuk menghasilkan arang yang baik. Untuk mendukung produktivitas kelompok tani, Universitas BTH juga menyerahkan bantuan berupa mesin cetak briket kepada Kelompok Tani Cahaya Harapan.
Strategi Kementerian Keuangan Penuhi Kebutuhan Pembiayaan APBN 2027

Proses pengolahan ini tidak hanya menghasilkan arang padat. Teknologi karbonisasi yang diterapkan dirancang agar asap pembakaran dapat dikondensasikan menjadi asap cair nonpangan. Produk sampingan berupa asap cair ini memiliki potensi kegunaan yang cukup luas di sektor pertanian dan perkayuan. Cairan kondensasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pendukung untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman serta bahan pengawet kayu nonpangan.
Agar produk arang dan briket ini dapat diserap pasar secara optimal, aspek komersialisasi juga menjadi perhatian. Dosen bidang Bisnis Digital Universitas BTH, Hana Diana Maria, membekali para petani dengan materi mengenai branding, literasi digital, serta pemanfaatan media sosial. Hal ini bertujuan agar kelompok tani dapat memperkenalkan produk mereka secara mandiri kepada calon konsumen yang lebih luas. Melalui integrasi dari hulu ke hilir ini, limbah yang semula tidak bernilai diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat desa.
Rupiah Menguat ke Rp17.840 per Dolar AS usai BI Rate Bertahan di 5,75%

Upaya pemanfaatan sorgum sebagai sumber energi alternatif sebenarnya sejalan dengan tren nasional yang tengah berkembang. Saat ini, PLN Energi Primer Indonesia (EPI) juga sedang menjajaki kerja sama dengan PT Sorbu Agro Energi untuk mengembangkan bioenergi berbasis tanaman sorgum. Selain itu, ekosistem pemanfaatan arang hasil pertanian di Indonesia semakin diperkuat dengan resminya pembentukan Asosiasi Biochar Indonesia Internasional sebagai wadah kolaboratif pengembangan teknologi biochar. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa optimalisasi limbah pertanian seperti sorgum bukan sekadar program lokal, melainkan bagian dari gerakan yang lebih besar dalam mendukung keberlanjutan energi dan kesejahteraan petani di berbagai wilayah.






