Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 memperlihatkan gambaran yang beragam bagi dunia pendidikan Indonesia. Di satu sisi, terdapat perbaikan pada kemampuan literasi membaca dan sains, namun di sisi lain kompetensi matematika mengalami penurunan di tengah partisipasi global yang semakin meluas.
Dalam asesmen PISA 2025 yang melibatkan 91 negara—meningkat dari 80 negara pada PISA 2022—Indonesia mencatatkan skor membaca sebesar 365, naik 6 poin dibandingkan hasil pengujian 2022. Peningkatan serupa terjadi pada bidang sains yang naik 6 poin ke angka 389. Kendati demikian, skor matematika justru terkoreksi 2 poin menjadi 364.
Perbandingan Global dan Target Nasional
Kenaikan pada dua indikator tersebut berlangsung di tengah tren penurunan nilai rata-rata di 35 negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Sepanjang periode 2022 hingga 2025, rata-rata skor OECD turun 9 poin pada matematika (menjadi 465), turun 14 poin pada membaca (menjadi 643), dan turun 3 poin pada sains (menjadi 484).
Gaya Elegan Bintang The Pitt dan Tren Pemenang di Red Carpet Emmy Awards Ke-78

Meski berhasil mencatat kenaikan pada bidang membaca dan sains saat tren global melandai, capaian Indonesia masih belum menyentuh sasaran yang diamanatkan regulasi nasional. Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 menetapkan target awal tahun 2025 sebesar 396 untuk membaca, 404 untuk matematika, dan 416 untuk sains, sebelum diproyeksikan melonjak masing-masing ke angka 485, 490, dan 487 pada 2045.
Evaluasi Akses dan Langkah Lanjutan
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, menyoroti keberhasilan Indonesia dalam memperluas akses pendidikan. Dalam dua dekade terakhir, partisipasi sekolah untuk kelompok usia 15 tahun telah berlipat ganda, sementara stabilitas mutu pembelajaran tetap terjaga dalam pengukuran berkala PISA.
PISA 2025 Indonesia Naik atau Turun, Skor Rata-rata Cenderung Sama dengan 2022

Berdasarkan taklimat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pelajar berusia 15 tahun di Indonesia juga memperlihatkan rasa ingin tahu yang tergolong tinggi serta kemampuan belajar mandiri yang berkembang. Karakteristik ini didorong sejumlah inisiatif kurikulum, termasuk kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti yang menerapkan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial pada jenjang dasar dan menengah.
Sebagai langkah evaluasi menyeluruh, Kemendikdasmen menetapkan empat pilar tindak lanjut hasil PISA, yakni peningkatan kompetensi guru, perbaikan proses pembelajaran, pembenahan sistem asesmen, dan penguatan peran keluarga. Sejalan dengan agenda peningkatan kompetensi tersebut, kementerian memfasilitasi 32.828 tenaga pendidik untuk melanjutkan studi ke jenjang S1/D4 pada 2026 guna memperkuat fondasi profesionalisme pendidik di tingkat nasional.






