Pertanyaan mengenai apakah performa pendidikan Indonesia pada PISA 2025 mengalami kenaikan atau penurunan terjawab melalui data resmi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Berdasarkan hasil resmi tersebut, rata-rata capaian peserta didik Indonesia dalam tiga bidang yang diuji鈥攜akni matematika, membaca, dan sains鈥攕ecara umum berada pada tingkat yang kurang lebih sama dengan capaian PISA 2022.
Kondisi ini menunjukkan bahwa performa rata-rata kemampuan dasar peserta didik Indonesia antarsiklus penilaian internasional tidak mengalami pergeseran signifikan, baik dalam tren kenaikan yang tajam maupun penurunan yang drastis.
Sebaran Kemampuan di Tingkat Kemahiran Dasar
Meskipun skor rata-rata menunjukkan kestabilan bila dibandingkan dengan siklus 2022, rincian data tingkat kemahiran memperlihatkan tantangan besar pada penguasaan materi dasar. Berdasarkan data OECD, proporsi siswa Indonesia yang berhasil mencapai ambang batas kompetensi minimum atau setidaknya level 2 tergolong masih terbatas di semua bidang uji.
Gaya Elegan Bintang The Pitt dan Tren Pemenang di Red Carpet Emmy Awards Ke-78

Dalam bidang sains, hanya tercatat 37 persen murid Indonesia yang mampu menyentuh batas kemahiran setidaknya level 2. Angka tersebut lebih rendah pada bidang literasi membaca, di mana hanya 27 persen siswa yang mencapai level 2 atau lebih tinggi. Sementara itu, bidang matematika menjadi area dengan capaian terendah, karena hanya 17 persen peserta didik Indonesia yang mampu mencapai tingkat kemahiran minimum level 2.
Ketiadaan Siswa di Tingkat Kemahiran Lanjut
Tantangan pada capaian PISA Indonesia tidak hanya berada pada penguasaan level dasar, melainkan juga pada ketiadaan peserta didik di kategori performa unggul. Hasil PISA menunjukkan bahwa hampir tidak ada siswa Indonesia yang mampu mencapai tingkat kemahiran level 5 atau 6 dalam bidang matematika dan sains.
Dua Wajah Hasil Tes PISA 2025, Literasi Membaik, Capaian Masih di Bawah Target

Pola serupa juga terlihat pada kompetensi membaca. Laporan resmi OECD mengonfirmasi bahwa hampir tidak ada peserta didik di Indonesia yang berhasil mencapai level 5 atau tingkat yang lebih tinggi. Profil capaian ini menegaskan bahwa distribusi kemampuan siswa masih sangat terkonsentrasi di bawah ambang kemahiran dasar, dengan ketiadaan kelompok siswa berkinerja tinggi pada penilaian standar internasional tersebut.






