Berita Viral Terkini
BerandaHukumPolitikEkonomiBisnisNasionalInternasionalOlahragaPendidikanBusinessNationalSportsBantuan SosialPopuler
Beranda/Internasional

Faktor Ekonomi Picu Amerika Serikat dan Iran Hentikan Pertempuran Dua Pekan

Wahyu SuryaniDiterbitkan 28 Jul 2026 - 04.35 路 1 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Faktor Ekonomi Picu Amerika Serikat dan Iran Hentikan Pertempuran Dua Pekan
Foto/Ilustrasi: Tirto
A-A+

Tekanan ekonomi yang kian memburuk akhirnya memaksa Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan pertempuran militer mereka. Sejak Jumat, 24 Juli 2026, Washington memutuskan untuk menghentikan kampanye pengeboman yang telah berlangsung selama hampir dua pekan terhadap berbagai wilayah Iran. Langkah ini langsung direspons oleh Teheran yang juga menghentikan serangan balasan terhadap aset-aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia. Penghentian serangan yang mendadak ini membuka peluang bagi kedua negara untuk kembali menjajaki negosiasi gencatan senjata yang sebelumnya sempat gugur.

Rangkaian pertempuran dua pekan tersebut berawal dari ketegangan di jalur perairan strategis pada awal Juli. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan serangan terhadap sejumlah kapal komersial yang berlayar di Selat Hormuz. Tindakan yang diklaim IRGC sebagai upaya menegaskan kontrol atas jalur pelayaran tersebut memicu eskalasi militer yang cepat. Amerika Serikat merespons dengan menggempur fasilitas militer Teheran di kawasan pelabuhan. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rentetan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, serta Yordania.

Dampak dari konflik bersenjata ini tidak hanya terbatas di kawasan Teluk Persia, tetapi juga meluas ke jalur distribusi penting lainnya. Di Selat Bab al-Mandeb, kelancaran pelayaran terganggu setelah kelompok bersenjata Houthi di Yaman ikut melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Ketegangan semakin meruncing ketika Ukraina menyerang sebuah kapal Iran di Laut Kaspia yang berujung pada tewasnya seorang pelaut Iran. Teheran mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai langkah bermusuhan serta kriminal. Terkait insiden ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa rudal jarak jauh mereka memang menargetkan kapal yang membawa kargo militer terkait Iran, sembari menuduh Rusia telah membantu kampanye militer Iran melawan Amerika Serikat.

Baca Juga

PFI Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau

PFI Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau

Dari sisi diplomatik, para pejabat di Washington berupaya menarasikan penghentian serangan sebagai langkah strategis terencana. Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, menjelaskan kepada NBC News bahwa keputusan tersebut diambil untuk memberi waktu bagi upaya diplomasi yang sedang berlangsung. Waltz menegaskan bahwa langkah presiden saat ini adalah untuk memberi ruang bagi beberapa pembicaraan. Di pihak lain, juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa penghentian serangan oleh Teheran murni merupakan respons atas berhentinya serangan dari Washington. Ia menekankan bahwa strategi Iran pada dasarnya adalah pembalasan, sehingga ketika Amerika Serikat berhenti menyerang, operasi pembalasan pun turut dihentikan.

Di tengah jeda militer ini, muncul spekulasi mengenai kondisi persenjataan Amerika Serikat. Laporan dari media Axios sebelumnya menyebutkan bahwa Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, mengkhawatirkan menipisnya ketersediaan amunisi pencegat rudal Patriot. Namun, isu tersebut langsung dibantah oleh Presiden Donald Trump. Dalam pernyataannya kepada Wall Street Journal, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki amunisi jauh lebih banyak dari siapa pun di dunia. Ia mengklaim bahwa menghentikan serangan dan membuat kesepakatan merupakan strategi yang lebih cerdas dibandingkan dengan menghancurkan Iran menggunakan bom.

Baca Juga

Ralph Lauren Jadi Sasaran Boikot Usai Gandeng Gal Gadot sebagai Model

Ralph Lauren Jadi Sasaran Boikot Usai Gandeng Gal Gadot sebagai Model

Meskipun terdapat berbagai klaim politik dan militer, para pakar menilai bahwa tekanan ekonomi adalah faktor utama di balik layar yang memaksa kedua belah pihak menurunkan senjata. Ekonom Nader Habibi menyoroti bahwa memburuknya kondisi ekonomi selama dua pekan terakhir telah membuat pemerintahan Trump ditekan oleh berbagai pihak, baik mitra domestik maupun internasional, untuk segera menemukan solusi. Di sisi lain, blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah menekan ekonomi Teheran secara signifikan. Habibi menyebutkan bahwa blokade tersebut membuat masyarakat Iran harus menghadapi antrean panjang untuk mendapatkan bensin dan bahan bakar diesel mereka sendiri, yang terkadang mencapai panjang hingga satu kilometer.

Situasi ekonomi yang sama-sama merugikan ini pada akhirnya mempertemukan kepentingan Washington dan Teheran untuk meredakan eskalasi. Direktur proyek Iran dari International Crisis Group, Ali Vaez, menjelaskan bahwa kedua negara kini memiliki alasan kuat untuk membiarkan negosiasi gencatan senjata yang baru kembali dilakukan. Menurut Vaez, dua minggu pertempuran telah mengingatkan Amerika Serikat dan Iran bahwa eskalasi hanya akan meningkatkan biaya, tanpa pernah menyelesaikan konflik yang mendasarinya.

Ikuti Berita Viral Terkini

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Donald TrumpAmerika SerikatIranTimur TengahGencatan SenjataEkonomi

Berita Terbaru Lainnya

Perjalanan KRL Dihentikan Sementara Usai Gempa M 5,9 di Kepulauan SeribuAmankan Laga Persib vs Persija, Polresta Karawang Sekat Jalur Konvoi ke JakartaGempa Magnitudo 5,9 Guncang Kepulauan Seribu Sabtu Pagi, tidak Berpotensi TsunamiKomisi II Pertanyakan Usul Perpanjangan Masa Jabatan KadesJejaring Rakyat Miskin Minta Negara Setop Bagi-bagi Tanah ke IndividuSekolah Terdampak Bencana hingga Wilayah 3T Jadi Prioritas Revitalisasi 2026Persija vs Persib di SUGBK Panpel Imbau Suporter tanpa Tiket untuk tak DatangBobotoh Diminta tak Datang ke GBK saat Laga Persija Vs Persib

Paling Banyak Dibaca

Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai Daerah

Seni Budaya

Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai Daerah

1 Agu 2026

Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi Pesawat

Ekonomi

Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi Pesawat

25 Jul 2026

Perwira TNI AL Didakwa Edarkan 9,83 Gram Sabu, Istri Cari Pembeli

Nasional

Perwira TNI AL Didakwa Edarkan 9,83 Gram Sabu, Istri Cari Pembeli

11 Agu 2026

Tengku Hadhira Rilis Proyek Musik Visual Hybrid KHORROSSIT Bernuansa Gotik Nusantara

Hiburan

Tengku Hadhira Rilis Proyek Musik Visual Hybrid KHORROSSIT Bernuansa Gotik Nusantara

3 Agu 2026

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPK

Hukum

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPK

25 Jul 2026

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

Teknologi

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

25 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai DaerahSeni Budaya 路 1 Agu 2026
  2. 2Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi PesawatEkonomi 路 25 Jul 2026
  3. 3Perwira TNI AL Didakwa Edarkan 9,83 Gram Sabu, Istri Cari PembeliNasional 路 11 Agu 2026
  4. 4Tengku Hadhira Rilis Proyek Musik Visual Hybrid KHORROSSIT Bernuansa Gotik NusantaraHiburan 路 3 Agu 2026
  5. 5Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPKHukum 路 25 Jul 2026
Berita Viral Terkini

Copyright 2026 Berita Viral Terkini - All Rights Reserved.

Kategori

HukumPolitikEkonomiBisnisNasionalInternasionalOlahragaPendidikanBusinessNationalSportsBantuan Sosial

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap