Tekanan ekonomi yang kian memburuk akhirnya memaksa Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan pertempuran militer mereka. Sejak Jumat, 24 Juli 2026, Washington memutuskan untuk menghentikan kampanye pengeboman yang telah berlangsung selama hampir dua pekan terhadap berbagai wilayah Iran. Langkah ini langsung direspons oleh Teheran yang juga menghentikan serangan balasan terhadap aset-aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia. Penghentian serangan yang mendadak ini membuka peluang bagi kedua negara untuk kembali menjajaki negosiasi gencatan senjata yang sebelumnya sempat gugur.
Rangkaian pertempuran dua pekan tersebut berawal dari ketegangan di jalur perairan strategis pada awal Juli. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan serangan terhadap sejumlah kapal komersial yang berlayar di Selat Hormuz. Tindakan yang diklaim IRGC sebagai upaya menegaskan kontrol atas jalur pelayaran tersebut memicu eskalasi militer yang cepat. Amerika Serikat merespons dengan menggempur fasilitas militer Teheran di kawasan pelabuhan. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rentetan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, serta Yordania.
Dampak dari konflik bersenjata ini tidak hanya terbatas di kawasan Teluk Persia, tetapi juga meluas ke jalur distribusi penting lainnya. Di Selat Bab al-Mandeb, kelancaran pelayaran terganggu setelah kelompok bersenjata Houthi di Yaman ikut melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Ketegangan semakin meruncing ketika Ukraina menyerang sebuah kapal Iran di Laut Kaspia yang berujung pada tewasnya seorang pelaut Iran. Teheran mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai langkah bermusuhan serta kriminal. Terkait insiden ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa rudal jarak jauh mereka memang menargetkan kapal yang membawa kargo militer terkait Iran, sembari menuduh Rusia telah membantu kampanye militer Iran melawan Amerika Serikat.
PFI Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau

Dari sisi diplomatik, para pejabat di Washington berupaya menarasikan penghentian serangan sebagai langkah strategis terencana. Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, menjelaskan kepada NBC News bahwa keputusan tersebut diambil untuk memberi waktu bagi upaya diplomasi yang sedang berlangsung. Waltz menegaskan bahwa langkah presiden saat ini adalah untuk memberi ruang bagi beberapa pembicaraan. Di pihak lain, juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa penghentian serangan oleh Teheran murni merupakan respons atas berhentinya serangan dari Washington. Ia menekankan bahwa strategi Iran pada dasarnya adalah pembalasan, sehingga ketika Amerika Serikat berhenti menyerang, operasi pembalasan pun turut dihentikan.
Di tengah jeda militer ini, muncul spekulasi mengenai kondisi persenjataan Amerika Serikat. Laporan dari media Axios sebelumnya menyebutkan bahwa Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, mengkhawatirkan menipisnya ketersediaan amunisi pencegat rudal Patriot. Namun, isu tersebut langsung dibantah oleh Presiden Donald Trump. Dalam pernyataannya kepada Wall Street Journal, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki amunisi jauh lebih banyak dari siapa pun di dunia. Ia mengklaim bahwa menghentikan serangan dan membuat kesepakatan merupakan strategi yang lebih cerdas dibandingkan dengan menghancurkan Iran menggunakan bom.
Ralph Lauren Jadi Sasaran Boikot Usai Gandeng Gal Gadot sebagai Model

Meskipun terdapat berbagai klaim politik dan militer, para pakar menilai bahwa tekanan ekonomi adalah faktor utama di balik layar yang memaksa kedua belah pihak menurunkan senjata. Ekonom Nader Habibi menyoroti bahwa memburuknya kondisi ekonomi selama dua pekan terakhir telah membuat pemerintahan Trump ditekan oleh berbagai pihak, baik mitra domestik maupun internasional, untuk segera menemukan solusi. Di sisi lain, blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah menekan ekonomi Teheran secara signifikan. Habibi menyebutkan bahwa blokade tersebut membuat masyarakat Iran harus menghadapi antrean panjang untuk mendapatkan bensin dan bahan bakar diesel mereka sendiri, yang terkadang mencapai panjang hingga satu kilometer.
Situasi ekonomi yang sama-sama merugikan ini pada akhirnya mempertemukan kepentingan Washington dan Teheran untuk meredakan eskalasi. Direktur proyek Iran dari International Crisis Group, Ali Vaez, menjelaskan bahwa kedua negara kini memiliki alasan kuat untuk membiarkan negosiasi gencatan senjata yang baru kembali dilakukan. Menurut Vaez, dua minggu pertempuran telah mengingatkan Amerika Serikat dan Iran bahwa eskalasi hanya akan meningkatkan biaya, tanpa pernah menyelesaikan konflik yang mendasarinya.






