Aktivitas belajar mengajar di SMPN 1 Pacar, Desa Pacar, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih berlangsung di area terbuka. Sejak Senin (31/8) hingga Senin (7/9), para siswa dan guru terpaksa memanfaatkan teras di samping bangunan sekolah sebagai ruang kelas darurat.
Langkah tersebut diambil menyusul gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026). Hingga kini, sebagian besar siswa masih mengalami trauma dan ketakutan mendalam setiap kali merasakan getaran susulan.
Guru SMPN 1 Pacar, Pius Ampat, menjelaskan bahwa pihak sekolah memprioritaskan pemulihan psikologis para peserta didik selama masa tanggap darurat berlangsung. Keputusan belajar di luar ruangan diambil untuk meminimalkan risiko bahaya saat gempa terjadi secara tiba-tiba.
Kemenkes Kirim 160 Nakes Batch 2 ke NTT Perkuat Psikososial Korban Gempa

Menurut Pius, kekhawatiran utama bukan sekadar ancaman tertimpa reruntuhan dinding bangunan, melainkan kepanikan massal yang bisa memicu anak-anak berlari tak terkendali saat getaran terasa.
Kendati demikian, proses belajar di teras sekolah menghadapi keterbatasan fasilitas. Hingga Senin (7/9), sekolah tersebut belum memiliki tenda atau terpal pelindung. Akibatnya, para siswa dan pengajar langsung terpapar terik matahari maupun guyuran hujan saat kegiatan belajar berlangsung.
Ancaman Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Terhadap Kualitas Udara Global

Pihak sekolah sangat mengharapkan perhatian dan bantuan dari pemerintah, khususnya pengadaan terpal atau tenda darurat guna menunjang kelancaran proses belajar yang telah berlangsung di luar ruang selama hampir dua pekan tersebut.
Dampak bencana gempa bumi magnitudo 7,7 di wilayah NTT ini tergolong parah, dengan catatan 51 warga meninggal dunia di wilayah Kabupaten Manggarai. Sejumlah elemen turut menyalurkan bantuan sosial bagi warga terdampak bencana, termasuk mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri Angkatan 16.






