Kepolisian Filipina menangkap mantan Ketua DPR Filipina, Martin Romualdez, atas kasus dugaan penjarahan dana negara (plunder) senilai 7,44 miliar peso atau sekitar Rp 2,1 triliun. Surat perintah penangkapan diserahkan langsung oleh aparat saat Romualdez tengah menjalani perawatan medis di sebuah rumah sakit di kawasan Metro Manila pada Senin.
Menteri Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah Filipina Jonvic Remulla mengonfirmasi penyerahan surat penangkapan tersebut dan menegaskan bahwa kebebasan Romualdez kini telah dibatasi. Romualdez sebelumnya dirawat akibat gangguan kardiovaskular dan tekanan darah yang tidak stabil. Setelah dokter menyatakan kondisinya cukup stabil untuk keluar dari rumah sakit, ia akan segera dipindahkan ke fasilitas penjara.
Penetapan status hukum ini menyusul dakwaan resmi yang diajukan oleh Kantor Ombudsman terhadap Romualdez dan tiga orang lainnya. Pengadilan Antikorupsi Filipina kemudian menerbitkan surat perintah penangkapan hanya beberapa jam setelah dakwaan tersebut didaftarkan.
Heboh Pengamat Kanada Ramal Gempa M9,0 Intai RI 2026, BMKG Ingatkan Ini

Berdasarkan berkas dakwaan, aliran dana yang mencapai triliunan rupiah itu diduga bersumber dari pihak kontraktor serta entitas swasta yang memiliki kepentingan dalam proyek pengendalian banjir, pembangunan infrastruktur, dan berbagai proyek pemerintah yang dibiayai anggaran nasional sepanjang periode 2022 hingga 2025.
Isu penyelewengan dana ini sempat memicu kegusuran publik pada paruh kedua tahun 2025. Pada September 2025, aksi protes berskala besar berlangsung di Manila dan sejumlah kota utama lainnya untuk mengecam dugaan korupsi pejabat tinggi dalam proyek pengendalian banjir.
Kebakaran TPA Putri Cempo Ternyata Belum Padam-Petugas Terus Berjibaku

Martin Romualdez tercatat memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan Presiden Filipina Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr. Ayah Romualdez, Benjamin "Kokoy" Romualdez, merupakan adik kandung dari mantan ibu negara Filipina sekaligus ibu dari sang presiden, Imelda Marcos.






