Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto memperingatkan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax berpotensi menembus level Rp 20.000 per liter apabila reli kenaikan harga minyak mentah global terus berlanjut tanpa indikasi penurunan.
Eko memperkirakan pergerakan harga Pertamax dan produk BBM nonsubsidi sejenis akan berada pada rentang Rp 18.000 hingga Rp 20.000 per liter. Proyeksi tersebut didasarkan pada belum adanya sinyal pelemahan harga minyak dunia, yang baru-baru ini sempat menyentuh angka US$ 108 per barel dan bertahan di atas level US$ 100 per barel.
Kenaikan tajam harga minyak mentah internasional ini dipicu oleh eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah, khususnya peningkatan pertempuran di kawasan strategis Selat Hormuz dan Laut Merah. Aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi yang memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab, mendorong para pedagang memborong minyak mentah dalam jumlah besar untuk mengantisipasi gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Cahaya Matahari & Angin Jadi Sumber Energi di Lahan Pertanian Kalijaran

Pertamina Imbau Warga Hindari Panic Buying
Menghadapi dinamika pasar energi global, Pertamina Patra Niaga meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying. Eko memastikan cadangan BBM di seluruh terminal transit dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) saat ini dalam kondisi aman terkendali.
Aksi borong berlebihan dinilai berisiko mengganggu kestabilan distribusi lokal. Proses pemulihan stok di SPBU yang terkuras akibat lonjakan pembelian mendadak membutuhkan waktu minimal satu minggu dalam kondisi ketahanan stok aman, atau setidaknya 3 hingga 4 hari pada kondisi operasional normal.
Karyawan Telkom Pindah dari Graha Merah Putih Setelah Disewa BGN

Apalagi, pemulihan distribusi akibat lonjakan konsumsi menuntut pengerahan rantai pasok secara penuh. Langkah mitigasi tersebut mencakup peningkatan kapasitas produksi di kilang domestik, pembukaan opsi impor bila pasokan kurang, penambahan armada kapal pengangkut menuju terminal BBM, hingga penambahan unit mobil tangki untuk pengiriman ke SPBU di berbagai daerah.






