Pascagempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), puluhan ribu penyintas di lokasi pengungsian kini berhadapan dengan masalah kesehatan saluran pernapasan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bahwa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi keluhan penyakit paling dominan yang diderita para korban bencana tersebut.
Juru Bicara Kemenkes Widyawati menjelaskan, rekapitulasi data terbaru mencatat sebanyak 25.017 kasus ISPA tersebar di tujuh kabupaten di Pulau Flores. Wilayah terdampak tersebut meliputi Kabupaten Manggarai, Sikka, Nagekeo, Ende, Ngada, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.
Polda Jambi Sita 22.800 Liter Minyak Ilegal, 8 Tersangka Ditangkap

Data tersebut dihimpun oleh tim gabungan di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis pukul 07.30 WIB, bertepatan dengan 25 hari setelah gempa utama melanda wilayah Flores.
Selain ISPA, penanganan medis di posko pengungsian mencatat kemunculan penyakit lingkungan lainnya. Kemenkes mendata terdapat 1.573 kasus dermatitis dan 1.512 kasus diare yang turut menyerang warga di pengungsian. Situasi penanganan darurat ini berlangsung di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan lokal, mengingat 169 puskesmas di wilayah terdampak mengalami kerusakan.
BMKG, Banyak Sensor Gempa Hilang, Ganggu Kualitas Data

Guna mempercepat layanan medis di lapangan, Kemenkes telah memobilisasi 868 relawan kesehatan gabungan ke area bencana. Pendistribusian tenaga medis dilakukan dalam dua gelombang utama, yakni pemberangkatan 206 personel pada 24 Agustus serta penambahan 160 personel berikutnya pada 7 September 2026.






