Berita Viral Terkini
BerandaHukumPolitikEkonomiPemerintahanBisnisSosialPeristiwaNasionalMegapolitanInternasionalOlahragaOtomotifTeknologiKesehatanHiburanMetroKriminalLingkunganPendidikanGaya HidupKeuanganBerita NasionalHukum & KriminalBeritaInfrastrukturGeneral NewsBerita UtamaNewsPopuler
Beranda/Nasional

Kenali Perbedaan Demam Biasa dan Mastitis pada Ibu Menyusui

Bambang HandayaniDiterbitkan 6 Agu 2026 - 08.51 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Kenali Perbedaan Demam Biasa dan Mastitis pada Ibu Menyusui
Foto/Ilustrasi: mediaindonesia.com.
A-A+

Sebanyak 59,30 persen pekerja di Indonesia saat ini didominasi oleh sektor informal yang tergolong rentan. Di tengah situasi ketenagakerjaan tersebut, perlindungan dan dukungan terhadap kesehatan keluarga, khususnya ibu menyusui, menjadi perhatian penting dalam agenda pembangunan nasional. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh. Pencegahan tersebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, melainkan juga harus menyentuh perbaikan kualitas lingkungan hidup. Terkait pembagian fokus ini, Muhaimin menekankan bahwa penetapan prioritas sasaran oleh pemerintah bukan berarti mengabaikan kelompok penerima manfaat lainnya yang juga membutuhkan perhatian.

Dalam proses menyusui, para ibu kerap menghadapi berbagai tantangan kesehatan fisik yang dapat menghambat pemberian ASI eksklusif. Salah satu figur publik, influencer Abel Cantika, sempat membagikan kisahnya mengenai drama payudara bengkak yang dialaminya saat menyusui anak kedua. Kondisi payudara bengkak dan demam sering kali menimbulkan kekhawatiran bagi para ibu baru, yang kerap mengaitkannya dengan gejala mastitis. Namun, tenaga medis mengingatkan agar para ibu tidak langsung berasumsi bahwa setiap demam saat menyusui merupakan tanda terjadinya infeksi tersebut.

Berita Viral Terkini

Copyright 2026 Berita Viral Terkini - All Rights Reserved.

Kategori

HukumPolitikEkonomiPemerintahanBisnisSosialPeristiwaNasionalMegapolitanInternasionalOlahragaOtomotifTeknologiKesehatanHiburanMetroKriminalLingkunganPendidikanGaya HidupKeuanganBerita NasionalHukum & KriminalBeritaInfrastrukturGeneral News

Konselor laktasi dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC, menjelaskan bahwa tidak semua demam yang dialami oleh ibu menyusui merupakan indikasi dari mastitis. Dokter yang aktif berpraktik di RS Pondok Indah-Puri Indah ini memaparkan bahwa apabila seorang ibu mengalami demam tetapi payudaranya tidak mengalami lecet, tidak kemerahan, terasa nyaman saat disentuh, proses menyusui berjalan lancar, dan volume produksi ASI tidak berubah, maka kondisi tersebut diprediksi bukan merupakan mastitis. Menurut dr. Anastasia, demam yang terjadi tanpa disertai gejala-gejala pada payudara tersebut bisa jadi dipicu oleh faktor kesehatan lain, seperti infeksi pada saluran pernapasan atau adanya gangguan pada sistem pencernaan.

Baca Juga

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen di Kuartal II 2026, Belanja Pemerintah dan Investasi Jadi Penopang

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen di Kuartal II 2026, Belanja Pemerintah dan Investasi Jadi Penopang

Sebaliknya, demam yang disebabkan oleh mastitis memiliki karakteristik yang sangat spesifik dan terlokalisasi. Kenaikan suhu tubuh pada penderita mastitis umumnya akan disertai dengan pembengkakan yang nyata, rasa nyeri yang sangat hebat pada area payudara, serta terjadinya penurunan produksi ASI secara signifikan. Secara umum, mastitis dipicu oleh proses pengosongan payudara yang tidak berlangsung secara sempurna. Masalah pengosongan yang tidak tuntas ini sering kali berawal dari adanya luka lecet pada puting. Rasa perih akibat lecet tersebut membuat ibu cenderung menghindari pengosongan payudara secara total demi mengurangi rasa sakit saat menyusui.

Selain masalah lecet, terdapat faktor teknis dan kebiasaan lain yang turut memicu terjadinya mastitis. Frekuensi menyusui yang terlalu jarang atau durasi menyusui yang terlalu singkat juga menjadi penyebab utama penumpukan ASI di dalam payudara. Dari sisi teknis, pelekatan mulut bayi yang kurang baik saat menyusu dapat menyebabkan puting terhimpit di antara gusi atau bibir bayi. Kondisi ini kemudian menyumbat dan menghambat aliran ASI keluar. Untuk mengatasi payudara yang mulai terasa penuh dan bengkak, dr. Anastasia menyarankan agar ibu segera melakukan pengosongan payudara sesegera mungkin. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengompres payudara dengan air hangat sebelum mulai memompa atau menyusui, yang dikombinasikan dengan pijatan ringan guna membantu melancarkan sumbatan aliran ASI.

Baca Juga

Polda Sumbar Segera Gelar Sidang Etik AKBP F Terkait Dugaan Pelecehan Polwan

Polda Sumbar Segera Gelar Sidang Etik AKBP F Terkait Dugaan Pelecehan Polwan

Meskipun penanganan mandiri dapat membantu pada tahap awal, pemantauan medis tetap diperlukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Ibu menyusui sangat disarankan untuk segera memeriksakan kondisi kesehatannya ke fasilitas kesehatan terdekat apabila merasakan adanya benjolan yang menetap atau rasa nyeri yang tidak kunjung mereda. Pemeriksaan medis yang lebih mendalam dan intensif oleh dokter sangat mendesak untuk dilakukan jika kondisi mastitis terjadi secara berulang, atau apabila gejala klinis yang dirasakan tidak menunjukkan tanda-tanda membaik dalam waktu dua hari setelah ibu mengonsumsi obat antibiotik yang diresepkan.

Ikuti Berita Viral Terkini

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

BKKBNKesehatan IbuMastitisIbu Menyusui

Berita Terbaru Lainnya

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen di Kuartal II 2026, Belanja Pemerintah dan Investasi Jadi PenopangPolda Sumbar Segera Gelar Sidang Etik AKBP F Terkait Dugaan Pelecehan PolwanPemerintah Pastikan Situasi Keamanan Terkendali di Tengah Isu Demo AgustusWali Kota Eri Cahyadi Minta Pengelola Mal di Surabaya Turunkan Pagar TinggiPemakaman Jenazah Wanita 300 Kg di Sragen Libatkan 35 Personel dan Teknik Vertical RescuePenyaluran Bansos PKH Triwulan III Jangkau 7 Juta KPM dan Sembako 12 Juta KPMMUI Dorong Penerapan Hukum Mati Koruptor, Menko Yusril Tegaskan Aturan Sudah Diatur Undang-UndangPertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Capai 5,29 Persen, Ekonom Soroti Ketimpangan Sektor Riil

Paling Banyak Dibaca

Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai Daerah

Seni Budaya

Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai Daerah

1 Agu 2026

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

Teknologi

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

25 Jul 2026

Menko AHY Desak Investigasi Menyeluruh atas Kebakaran KM Mutiara Sentosa di Perairan Madura

Nasional

Menko AHY Desak Investigasi Menyeluruh atas Kebakaran KM Mutiara Sentosa di Perairan Madura

3 Agu 2026

Jeda Serangan Amerika Serikat Buka Peluang Negosiasi dengan Iran di Timur Tengah

Internasional

Jeda Serangan Amerika Serikat Buka Peluang Negosiasi dengan Iran di Timur Tengah

27 Jul 2026

Kemnaker Catat 32.389 Pekerja Terkena PHK Sepanjang Semester Pertama 2026

Ketenagakerjaan

Kemnaker Catat 32.389 Pekerja Terkena PHK Sepanjang Semester Pertama 2026

27 Jul 2026

Permintaan Maaf Komunitas Pajero Usai Konvoi di Tol Surabaya-Mojokerto Tuai Keluhan

Berita

Permintaan Maaf Komunitas Pajero Usai Konvoi di Tol Surabaya-Mojokerto Tuai Keluhan

27 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai DaerahSeni Budaya 路 1 Agu 2026
  2. 2Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025Teknologi 路 25 Jul 2026
  3. 3Menko AHY Desak Investigasi Menyeluruh atas Kebakaran KM Mutiara Sentosa di Perairan MaduraNasional 路 3 Agu 2026
  4. 4Jeda Serangan Amerika Serikat Buka Peluang Negosiasi dengan Iran di Timur TengahInternasional 路 27 Jul 2026
  5. 5Kemnaker Catat 32.389 Pekerja Terkena PHK Sepanjang Semester Pertama 2026Ketenagakerjaan 路 27 Jul 2026
Berita Utama
News

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap