Berita Viral Terkini

Ketegangan di Timur Tengah Dorong Harga Minyak Kembali Lewati Seratus Dolar

Ding Anyi ApuiPublished 26 Jul 2026 - 11.190 Reads
Bagikan WhatsAppX
Ketegangan di Timur Tengah Dorong Harga Minyak Kembali Lewati Seratus Dolar
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Dunia kembali diingatkan betapa rapuhnya rantai pasok energi global ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah memanas. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, harga minyak mentah dunia kembali menembus level psikologis US$100 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam para pelaku pasar terhadap keamanan dua jalur pelayaran paling krusial di dunia, yaitu Laut Merah dan Selat Hormuz, yang kini berada dalam bayang-bayang konflik bersenjata.

Pemicu utama dari lompatan harga ini adalah eskalasi serangan di koridor Laut Merah. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone ke arah dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi, Encelia dan Layla. Serangan tersebut mengakibatkan salah satu kapal terbakar. Pihak Houthi berdalih aksi ini dilakukan karena kedua kapal melanggar blokade laut di kawasan tersebut. Di saat yang sama, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz kembali memanas, memicu kekhawatiran akan terjadinya hambatan distribusi minyak secara serentak di dua titik nadi perdagangan energi dunia.

Pada perdagangan Jumat (24/7/2026), minyak acuan Brent melesat dari kisaran US$95 menjadi di atas US$100 per barel. Fluktuasi ini menandai babak baru setelah harga minyak sempat merosot hingga ke level US$71 per barel pada awal Juli karena adanya harapan gencatan senjata antara AS dan Iran. Namun, kegagalan kesepakatan tersebut membuat harga merangkak naik kembali. Kini, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan harga minyak kembali menyentuh US$120 per barel, mendekati rekor tertinggi bulan April lalu yang sempat menembus US$126 per barel akibat konflik di Teluk.

Also Read

IHSG Jatuh ke Level 6.204 Setelah Ditekan Aksi Jual Investor Asing

Meskipun Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menilai bahwa pasar sejauh ini masih memiliki beberapa faktor peredam gejolak, ia mengingatkan agar semua pihak tidak lengah terhadap potensi gangguan pasokan yang nyata. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, sebab kenaikan harga energi secara langsung memicu kecemasan baru terkait inflasi global. Investor kini bersiap menghadapi skenario di mana bank sentral terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama demi meredam tekanan inflasi yang kembali memanas.

Dampak dari ketidakpastian ini langsung menjalar ke sektor keuangan global. Bursa saham di Amerika Serikat dan Eropa kompak melemah, sementara investor berbondong-bondong melepas obligasi pemerintah yang berakibat pada kenaikan imbal hasil (yield) surat utang di negara-negara maju. Analis pasar dari IG, Chris Beauchamp, menjelaskan bahwa volatilitas pasar meningkat tajam seiring dengan tingginya risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi ini berpotensi menekan perekonomian negara-negara maju dan menyeret pasar saham lebih dalam ke zona merah.

Also Read

Sektor Ekonomi Digital Menyumbang Pajak Rp54,71 Triliun hingga Juni 2026

Pada akhirnya, masa depan ekonomi global kini sangat bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah. Selama keamanan di Laut Merah dan Selat Hormuz belum terjamin, bayang-bayang lonjakan harga minyak akan terus menghantui. Jika gangguan pasokan meluas, dunia harus bersiap menghadapi perlambatan ekonomi yang dipicu oleh inflasi energi yang tak terkendali.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca