Kondisi sektor keuangan di China sedang menghadapi tantangan besar seiring dengan kolapsnya sejumlah lembaga pengelola aset atau asset-management companies (AMC). Entitas ini awalnya didirikan untuk mengambil alih kredit macet dari bank-bank bermasalah. Namun, banyak dari perusahaan tersebut kini justru terjebak dalam masalah utang yang serius.
Penyebab utama dari situasi ini berakar pada sejarah dan perubahan fungsi dasar AMC. Pada tahun 1999, Kementerian Keuangan membentuk empat AMC pertama dengan tugas menyelamatkan empat bank komersial terbesar milik negara. Pada tahun 2018, total aset gabungan keempat AMC tersebut telah mencapai sekitar 5 triliun yuan, yang setara dengan US$755 miliar pada saat itu.
Kini, terdapat lebih dari 60 entitas AMC lokal di China yang mayoritas dimiliki oleh pemerintah daerah, sementara segelintir lainnya, termasuk Guohou Asset Management, merupakan milik swasta. Banyak dari AMC ini mulai meminjam dana dari bank dengan tingkat bunga rendah, lalu menyalurkannya kembali dengan bunga yang jauh lebih tinggi kepada perusahaan bermasalah, termasuk para pengembang properti.
Dampak dari praktik ini membuat data kredit macet yang sebenarnya menjadi sulit dipastikan. Estimasi akademis menunjukkan bahwa pada tahun 2020, setidaknya separuh atau bahkan lebih dari total kredit macet di China berhasil disembunyikan dari catatan resmi. Ketika masalah ini tidak lagi terbendung, kerugian besar mulai bermunculan. Huarong, AMC terbesar di China, membutuhkan dana talangan negara sebesar US$6,6 miliar pada tahun 2020, yang berujung pada eksekusi mati mantan ketuanya, Lai Xiaomin.
Program MBG 3T Buka Peluang Pasar Baru bagi Petani dan Peternak Lokal

Kondisi keuangan lembaga lainnya juga memburuk. Cinda, salah satu AMC milik pemerintah pusat, memperkirakan laba bersihnya pada semester pertama tahun ini akan anjlok hingga 70 persen. Secara bersamaan, kredit macet bank komersial di China tercatat naik dari 3 triliun yuan pada tahun 2022 menjadi hampir 3,7 triliun yuan pada kuartal pertama tahun ini, meskipun angka tersebut mewakili sekitar 1,5 persen dari total aset bank komersial.
Untuk merespons krisis kredit macet dan kegagalan sistemik ini, terdapat beberapa langkah penanganan yang diambil oleh otoritas dan pihak terkait di China:
Pertama, menghentikan penerbitan lisensi operasional baru. Regulator keuangan di China telah mengambil tindakan untuk membatasi pertumbuhan entitas dengan berhenti menerbitkan lisensi AMC baru sejak tahun lalu.
Dinamika dan Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS di Tengah Gejolak Global

Kedua, membongkar praktik manipulasi pelaporan keuangan. Penanganan krisis melibatkan investigasi terhadap skema perjanjian laci (drawer agreements). Kasus ini ditemukan pada Guohou, di mana perusahaan membeli kredit macet dari bank tepat sebelum tenggat pelaporan, lalu menjualnya kembali tak lama kemudian.
Ketiga, membubarkan entitas yang terbukti melakukan pelanggaran fatal. Tindakan tegas diterapkan dengan melikuidasi perusahaan bermasalah. Pada tahun 2020, sebuah AMC di sabuk industri timur laut China dibubarkan setelah ketahuan memberikan pinjaman janggal kepada sebuah klub sepak bola.
Keempat, menjalankan proses restrukturisasi melalui pengadilan. Pada akhir Juli 2026, pengadilan di Provinsi Anhui menyetujui proposal restrukturisasi untuk Guohou Asset Management. Perusahaan swasta ini terbukti tidak sanggup membayar utang sebesar 13 miliar yuan setelah mencatatkan kerugian operasional selama bertahun-tahun.






