Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diselenggarakan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dinilai memiliki potensi yang sangat besar untuk membuka akses pasar baru bagi para petani dan peternak lokal. Kehadiran program ini diharapkan mampu menjadi solusi atas tantangan pemasaran hasil bumi yang selama ini sering dihadapi oleh masyarakat di daerah terpencil. Dengan terbukanya akses pasar baru ini, para pelaku sektor pertanian dan peternakan di wilayah 3T memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendistribusikan hasil produksi mereka secara berkelanjutan demi mendukung pemenuhan gizi masyarakat sekitar.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, penguatan rantai pasok lokal di daerah 3T terus didorong, salah satunya melalui wadah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa produksi dari para petani dan peternak lokal dapat dikonsolidasikan melalui koperasi tersebut. Konsolidasi ini sangat penting agar proses distribusi dan pasokan bahan pangan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat berjalan secara rutin dan lebih mudah terpenuhi.
Langkah konsolidasi dan penyerapan bahan pangan lokal ini juga merupakan bagian dari kebijakan strategis yang diarahkan oleh pimpinan lembaga pangan. Kepala Badan Pangan Nasional yang baru telah memberikan perintah agar pengambilan pasokan pangan dilakukan dari sisi hulu. Dengan menyerap hasil produksi langsung dari petani dan peternak lokal di hulu, program MBG tidak hanya berfungsi sebagai program pemenuhan gizi, tetapi juga dapat memberikan kepastian pasar yang nyata bagi para produsen pangan lokal. Selain itu, penyerapan hasil produksi secara konsisten ini juga berperan penting dalam membantu menjaga stabilitas harga komoditas pangan di tingkat daerah.
Langkah Mengoptimalkan Manfaat Pemberdayaan Usaha Ultra Mikro dari PNM dan Danantara

Dukungan terhadap implementasi program MBG di wilayah 3T ini juga datang dari kalangan dunia usaha. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTT, Bobi Lianto, memberikan pandangannya mengenai dampak positif program ini bagi perekonomian desa. Dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Rabu, 19 Agustus 2026, Bobi menyatakan bahwa keberadaan program MBG 3T di tingkat kampung dan desa secara otomatis akan mendorong para petani lokal di daerah untuk lebih giat bekerja dalam mempersiapkan pasokan pangan yang dibutuhkan.
Penyediaan pasokan bahan pangan dari wilayah sekitar juga dinilai jauh lebih efisien bagi daerah-daerah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan akses transportasi dan infrastruktur. Dengan memanfaatkan potensi terdekat, kendala logistik dapat diminimalisasi sehingga kebutuhan pangan untuk program gizi ini dapat terpenuhi secara lebih stabil dan berkelanjutan.
Pencalonan Destry Damayanti dan Aida S Budiman Menegaskan Independensi Bank Indonesia

Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah secara aktif mendorong pemanfaatan pangan lokal dalam penyediaan makanan untuk program MBG, khususnya di wilayah-wilayah 3T. Dalam kaitan ini, I Gusti Ketut Astawa memberikan saran praktis mengenai pemilihan bahan pangan. Beliau menyarankan agar jika suatu wilayah 3T memiliki kelimpahan komoditas tertentu, misalnya memiliki banyak ikan, maka wilayah tersebut sebaiknya memanfaatkan potensi ikan lokal yang ada untuk program ini. Langkah ini memastikan bahwa program MBG dapat berjalan optimal dengan memaksimalkan keunggulan pangan lokal masing-masing daerah.






