Perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pertengahan Agustus 2026 memperlihatkan ketahanan di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Berdasarkan data transaksi, rupiah mencatatkan penguatan sebesar 0,78 persen secara point-to-point pada Selasa, 18 Agustus 2026, dengan posisi berada di level Rp17.855 per dolar AS jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Juli 2026. Meskipun fluktuasi harian tetap terjadi, tren penguatan ini menjadi indikator positif bagi stabilitas moneter dalam negeri.
Pada perdagangan Rabu pagi, 19 Agustus 2026, rupiah dibuka menguat tipis sebesar 2 poin atau sekitar 0,01 persen ke level Rp17.860 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.862 per dolar AS. Pergerakan ini terus bergerak dinamis, di mana pada pukul 08.51 WIB di hari yang sama, dolar AS terpantau berada di posisi Rp17.857,4, atau mengalami kenaikan sebesar 11,7 poin atau 0,07 persen terhadap rupiah. Kondisi ini mencerminkan volatilitas jangka pendek yang biasa terjadi dalam mekanisme pasar harian.
Faktor domestik memegang peranan penting dalam menjaga pergerakan nilai tukar ini. Sentimen positif pasar sangat dipengaruhi oleh pidato Presiden RI Prabowo Subianto mengenai Rancangan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Selain itu, Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas Gubernur Destry Damayanti mengambil langkah strategis dengan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026. Bank sentral juga terus memperluas kebijakan insentif guna mempercepat pendalaman pasar uang serta pasar valuta asing (PUVA).
Rincian Suku Bunga Acuan Bank Indonesia Periode Agustus 2026

Langkah-langkah stabilisasi tersebut didukung oleh masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Hingga 14 Agustus 2026, Bank Indonesia mencatat aliran masuk bersih (net inflows) portofolio asing mencapai US$1,8 miliar. Masuknya dana segar ini utamanya didorong oleh instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kehadiran investasi portofolio ini memberikan bantalan likuiditas yang krusial untuk menahan tekanan eksternal.
Melihat perbandingan dengan mata uang lainnya pada Rabu pagi, 19 Agustus 2026, rupiah menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Rupiah tercatat menguat terhadap beberapa mata uang regional seperti dolar Singapura yang turun 1,56 poin atau 0,01 persen ke level Rp13.976,73, yuan China yang turun 0,42 poin atau 0,02 persen ke level Rp2.649,60, baht Thailand yang turun 0,533 poin atau 0,10 persen ke level Rp539,146, serta ringgit Malaysia yang turun 6,77 poin atau 0,15 persen ke level Rp4.395,97. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap euro terpantau stabil di level Rp20.686,0. Sebaliknya, rupiah mengalami pelemahan terhadap won Korea Selatan yang naik 0,0454 poin atau 0,36 persen ke level 12,6947 dan yen Jepang yang naik 0,09 poin atau 0,08 persen ke level Rp112,04.
DJP Wajibkan Platform Kripto Kumpulkan Data Domisili Nasabah

Meskipun indikator domestik menunjukkan performa yang cukup solid, ketidakpastian eksternal masih menjadi tantangan utama. Prospek pertumbuhan ekonomi dunia saat ini dinilai masih lemah ditambah dengan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global yang antara lain dipengaruhi oleh berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah. Oleh karena itu, perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke depan akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta perkembangan geopolitik global.






