Berita Viral Terkini

Lawan Stigma Negatif Mahasiswa di Yogyakarta Ujian Proposal Tesis Pakai Kostum Kamen Rider

Bambang HandayaniPublished 26 Jul 2026 - 16.100 Reads
Bagikan WhatsAppX
Lawan Stigma Negatif Mahasiswa di Yogyakarta Ujian Proposal Tesis Pakai Kostum Kamen Rider
Foto/Ilustrasi: news.detik.com.
A-A+

Ujian proposal tesis pada tingkat pascasarjana biasanya diwarnai dengan atmosfer yang menegangkan, pakaian formal yang rapi, serta tumpukan berkas akademis yang kaku. Namun, pemandangan yang sangat kontras dan tidak biasa terjadi di ruang sidang Program Magister Kajian Budaya, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta. Seorang mahasiswa bernama Yogi Fajar Darmawan melangkah masuk ke ruang ujian dengan cara yang sangat mengejutkan. Alih-alih mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam, ia justru hadir dengan mengenakan kostum lengkap pahlawan super legendaris asal Jepang, Kamen Rider Black. Aksi berani ini seketika memicu kehebohan dan menjadi viral setelah dibagikan di berbagai platform media sosial.

Di balik keputusan ekstrem untuk mengenakan kostum Ksatria Baja Hitam tersebut, ternyata tersimpan sebuah alasan akademis yang sangat kuat. Yogi merupakan seorang cosplayer aktif yang sudah kenyang merasakan berbagai stigma negatif dari masyarakat umum. Selama bertahun-tahun mendalami hobi ini, ia kerap menerima cibiran dan dipandang dengan sebelah mata. Yogi sering kali dicap sebagai orang dewasa yang kekanak-kanakan, belum matang secara emosional, dan terlalu banyak berkhayal. Bahkan, ia pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan di mana dirinya dianggap sebagai pengamen jalanan saat sedang mengenakan kostum Kamen Rider di tempat umum.

Also Read

Truk Patah As Roda Sempat Lumpuhkan Arus Lalu Lintas di Ciputat

Pengalaman diskriminatif tersebut tidak hanya berhenti di situ saja. Yogi juga menceritakan pengalaman serupa ketika dirinya melakukan cosplay sebagai tokoh Kiryu Kazuma dari serial game Yakuza. Dalam penampilannya tersebut, ia berusaha tampil total dengan mengikuti koreografi asli karakter, termasuk membuka baju bagian atas untuk memperlihatkan tato naga yang ikonik di punggungnya. Sayangnya, bagi masyarakat awam yang tidak memahami esensi dari seni pertunjukan cosplay, aksi totalitas tersebut justru dianggap sebagai tindakan yang tidak senonoh dan tidak sopan untuk dilakukan di ruang publik.

Berangkat dari rangkaian kegelisahan personal itulah, Yogi memutuskan untuk menggunakan jalur akademis sebagai ruang untuk bersuara. Ia menjadikan stigma sosial terhadap pelaku cosplay sebagai topik utama dalam penelitian tesisnya. Untuk memperkuat datanya, Yogi juga memperluas jangkauan penelitian hingga ke daerah Bandar Lampung. Di sana, ia menemukan fakta bahwa banyak anggota komunitas cosplay lokal yang mengalami perlakuan tidak menyenangkan dan penghakiman sosial yang serupa dengan apa yang pernah ia rasakan sebelumnya. Penelitian ini menjadi wadah untuk membedah akar prasangka masyarakat terhadap subkultur pop ini.

Also Read

Kejagung Jelaskan Alasan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Ditahan Tanpa Rompi Pink

Dengan membawa kostum Kamen Rider Black langsung ke hadapan para dosen penguji, Yogi tidak hanya sedang mempresentasikan rencana penelitiannya. Ia secara simbolis membawa subjek penelitiannya ke ranah ilmiah untuk membuktikan bahwa budaya populer memiliki nilai akademis yang tinggi dan patut dihormati. Langkah berani ini menunjukkan bahwa hobi yang sering kali diremehkan sebenarnya menyimpan kompleksitas sosial yang mendalam. Melalui sidang proposal tersebut, Yogi berhasil menyuarakan keresahan komunitas kreatif cosplayer yang selama ini sering terabaikan oleh penilaian sepihak dari lingkungan sekitar.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca