Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) merilis laporan terbaru bertajuk Labor Market Brief Edisi Juli 2026. Laporan berkala ini secara khusus menyoroti kondisi ketenagakerjaan di tanah air, termasuk latar belakang pendidikan para pencari kerja yang belum berhasil terserap oleh pasar kerja. Dalam menyusun analisis tersebut, LPEM FEB UI memanfaatkan data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) periode Februari 2026 yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Melihat tren ketenagakerjaan secara kronologis dari awal tahun, data Sakernas Februari 2026 menunjukkan jumlah pengangguran di Indonesia berada di angka 7,24 juta orang. Dari keseluruhan angka tersebut, lulusan pendidikan tinggi yang mencakup jenjang Diploma IV, Strata 1 (S1), Strata 2 (S2), hingga Strata 3 (S3) menyumbang porsi sebesar 14,27 persen. Beberapa bulan setelahnya, berdasarkan data Sakernas Mei 2026, jumlah penganggur di Indonesia tercatat sebanyak 7,22 juta orang. Meskipun jumlah total penganggur menurun tipis, persentase lulusan perguruan tinggi (DIV, S1, S2, dan S3) yang menganggur justru mengalami kenaikan menjadi 14,31 persen.
Ketika struktur pengangguran berpendidikan minimal S1 ini dibedah berdasarkan bidang studi terakhir mereka, terlihat adanya konsentrasi pada jurusan-jurusan tertentu. Lulusan dari bidang studi Manajemen menempati urutan pertama sebagai penyumbang angka pengangguran terbesar. Proporsi lulusan Manajemen yang belum bekerja ini mencapai angka 10,3 persen dari total penganggur berpendidikan tinggi tingkat sarjana.
CTO Danantara Blak-blakan Bahas Strategi Atasi Kekosongan Rantai Pasok

Setelah bidang Manajemen, lulusan dari bidang studi Hukum menyusul di peringkat kedua dengan menyumbangkan angka 9 persen dari total penganggur berpendidikan minimal S1. Di posisi berikutnya, lulusan dari program studi Ekonomi tercatat menyumbang sebesar 8,7 persen. Jika data ini digabungkan dengan lulusan bidang studi Pendidikan yang berada di angka 7,1 persen serta Akuntansi sebesar 5,1 persen, maka kelima bidang studi tersebut secara akumulatif mencakup sekitar 40 persen dari total penganggur berpendidikan minimal S1. Angka akumulasi ini merujuk pada data pembanding Sakernas Februari 2025 yang dijadikan acuan kajian.
Di luar kelompok lima besar tersebut, lulusan dari bidang studi Ilmu Komputer atau Informatika juga tercatat menyumbang sekitar 4,6 persen dari total penganggur lulusan sarjana. Dalam metode pengelompokan data ini, bidang studi Akuntansi dan Administrasi Bisnis dicatat sebagai kategori yang terpisah secara mandiri. Pemisahan ini tetap dilakukan meskipun secara keilmuan kedua program studi tersebut berada dalam rumpun keluarga bisnis yang berdekatan dengan Manajemen.
Danantara Targetkan Pembangunan Pabrik Logam Tanah Jarang dan Magnet Permanen di Indonesia

Di balik pemaparan angka-angka tersebut, terdapat batasan informasi penting yang perlu dipahami secara saksama oleh publik. Data yang dirilis ini menunjukkan bidang studi yang paling banyak ditemukan di antara populasi penganggur berpendidikan minimal S1 pada saat survei dilakukan, bukan menunjukkan tingkat pengangguran dari masing-masing bidang studi tersebut. Dengan demikian, tingginya persentase lulusan Manajemen, Hukum, dan Ekonomi dalam daftar ini mencerminkan besarnya jumlah lulusan dari jurusan tersebut yang sedang mencari kerja, bukan berarti lulusan dari jurusan-jurusan ini memiliki risiko menganggur yang lebih tinggi dibanding bidang studi lainnya.






