Peluncuran Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) dipandang sebagai momentum strategis dalam mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi Indonesia. Inisiatif ini membuka ruang pemanfaatan potensi energi surya domestik secara optimal guna menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Sebagai langkah awal, pemerintah menyiapkan 14 proyek dengan total kapasitas mencapai 5.300 megawatt peak (MWp). Program ini tidak hanya ditujukan untuk memperluas pasokan listrik bersih bagi kebutuhan industri dan perekonomian, tetapi juga berpeluang menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada sektor pembangkitan serta memperluas jangkauan elektrifikasi di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Kepala Pusat Energi dan Pangan INDEF, Abra Talattov, menyatakan bahwa pengembangan PLTS skala besar memang memiliki potensi signifikan dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, keberhasilannya bergantung pada kesiapan perencanaan sistem secara utuh.
209 Penerbangan Batal, Begini Nasib Penumpang di Soekarno Hatta

Menurut Abra, pembangunan PLTS perlu dirancang sebagai bagian dari transformasi menyeluruh sistem kelistrikan nasional, bukan sekadar agenda penambahan kapasitas pembangkit. Pembangunan pembangkit surya skala masif harus berjalan selaras dengan proyeksi pertumbuhan permintaan listrik, kondisi sistem kelistrikan di masing-masing daerah, kesiapan jaringan transmisi, serta pentahapan yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Selain itu, karakteristik produksi listrik tenaga surya yang dipengaruhi oleh faktor cuaca memerlukan dukungan infrastruktur pendukung agar pasokan tetap stabil. Intermitensi tersebut dapat diimbangi melalui penguatan jaringan transmisi, interkoneksi antarsistem, digitalisasi jaringan, serta pemanfaatan fasilitas penyimpanan energi.
Vonis Terbaru 2 Tentara Kasus Andrie Yunus Lebih Ringan Tuai Kritikan

Salah satu model pengembangan yang direncanakan adalah proyek PLTS berkapasitas 1.000 MWp yang dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 3.300 MWh di Bali. Skema ini disiapkan sebagai percontohan ekosistem energi terbarukan yang terintegrasi untuk mendukung stabilitas pasokan listrik bersih ke depan.






