Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bergerak memulihkan layanan belajar bagi anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) pascabencana gempa bumi. Upaya pemulihan ini dirancang mencakup dua pilar utama, yakni perbaikan sarana fisik dan pendampingan kondisi mental para warga sekolah.
Berdasarkan pendataan kementerian, sebanyak 857 satuan pendidikan dengan total 101.888 peserta didik teridentifikasi membutuhkan intervensi psikososial. Hingga kini, layanan pendampingan telah terealisasi di 75 sekolah melalui kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi).
Ekonom Peringatkan Risiko Jatuh Tempo Utang Luar Negeri yang Makin Pendek

Guna memperluas daya jangkau pemulihan trauma, Kemendikdasmen menjadwalkan pelatihan bagi 120 fasilitator tingkat nasional serta 1.700 fasilitator daerah. Skema pembekalan ini ditargetkan menyentuh sekitar 51.000 pendidik dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten terdampak.
Di sektor infrastruktur fisik, bantuan rehabilitasi tahap awal disiapkan sebesar Rp50 miliar yang dialokasikan bagi 187 satuan pendidikan berstatus rusak. Sementara itu, untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA, proses verifikasi dan validasi kebutuhan riil di lapangan masih diselesaikan guna memetakan tahapan bantuan lanjutan.
Dari Ruang Belajar ke Ekosistem Bisnis, Solopreneur Kini Dibidik untuk Naik Kelas

Pemerintah juga meninjau kembali agenda program rehabilitasi tahun 2026 yang sedang berjalan agar alokasi penanganan selaras dengan tingkat kerusakan terkini di wilayah NTT.






