Kawasan Selat Hormuz tengah mengalami pergeseran peta maritim yang signifikan. Teheran saat ini dilaporkan mulai kehilangan sebagian kendalinya atas kawasan tersebut. Kepala Analisis Minyak Mentah Kpler, Homayoun Falakshahi, menyebutkan bahwa Iran tampak telah kehilangan sebagian pengaruhnya seiring dengan perubahan rute kapal-kapal tanker yang berupaya menghindari tekanan militer.
Mengapa pengaruh Iran di Selat Hormuz dilaporkan mulai melemah?
Tercatat lebih dari 80 persen kapal yang melewati Selat Hormuz pada dua pekan terakhir lebih memilih rute Oman. Rute ini adalah jalur pelayaran resmi ketetapan PBB yang sebelumnya selalu ditolak oleh pihak Iran. Transisi ini sangat kontras dengan kondisi sebulan sebelumnya, di mana rute Oman hampir tidak dilewati oleh kapal dagang mana pun. Saat ini, armada kapal berani mengesampingkan tuntutan Teheran karena mereka berpegang pada jaminan keamanan dari angkatan laut Amerika Serikat. Situasi ini berdampak langsung pada kesulitan Iran dalam memungut biaya tol dari kapal-kapal yang melewati perairan tersebut. Pendiri sekaligus Kepala Investasi Pickering Energy Partners, Dan Pickering, menyatakan bahwa tuntutan Iran terkait biaya tol merupakan hal yang enggan dipenuhi oleh mayoritas pihak di Timur Tengah.
Bagaimana taktik negara-negara Teluk untuk menghindari risiko serangan Iran?
Hadir Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo Raih Rekor MURI

Negara seperti Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab mengambil langkah antisipasi dengan menyewa kapal tanker jenis VLCC guna mendistribusikan minyak dari Teluk Persia melewati Selat Hormuz. Andy Lipow selaku Presiden Lipow Oil Associates menerangkan bahwa muatan minyak tersebut selanjutnya ditransfer ke kapal pelanggan yang bersandar di luar zona rawan Teluk Oman guna menekan potensi serangan dari Iran. Sebagai langkah pencegahan tambahan, beberapa kapal memutuskan untuk menonaktifkan transponder mereka selama berminggu-minggu agar terhindar dari target serangan.
Seberapa besar dampak ketegangan ini terhadap volume lalu lintas minyak dunia?
Menurut pemaparan Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright, akumulasi transit minyak yang melewati Selat Hormuz maupun rute penggantinya menyentuh angka 15 juta barel per hari pada sepekan terakhir. Volume tersebut menurun dibandingkan rata-rata pergerakan minyak sebelum masa perang yang bisa mencapai 20 juta barel setiap harinya. Merespons dinamika tersebut, Presiden Donald Trump pada hari Senin mengeluarkan pernyataan bahwa Amerika Serikat telah memegang kendali penuh atas selat strategis itu.
Pengurangan Latihan Militer AS-Korea Selatan di Tengah Rencana Pertemuan Trump dan Kim Jong Un

Sampai kapan Teheran mampu bertahan dengan kondisi ini?
Masa depan kendali pelayaran di kawasan ini masih terus berkembang. Pada perkembangan terkini, perwakilan Oman dan Iran diketahui sedang melangsungkan diskusi bilateral yang bertujuan untuk mengembalikan kebebasan navigasi di wilayah perairan tersebut tanpa adanya campur tangan dari Amerika Serikat.






