Jumlah warga yang mengungsi pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat mencapai 179.037 orang per Rabu (26/8/2026). Laporan data pengungsian tersebut telah disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Banyaknya warga di posko pengungsian tidak hanya disebabkan oleh kerusakan bangunan akibat gempa bermagnitudo 7 yang mengguncang pada 15 Agustus 2026 lalu. Sebagian besar warga memilih bertahan di luar rumah karena rasa takut yang dipicu oleh rentetan gempa susulan serta beredarnya kabar bohong mengenai potensi gempa susulan yang lebih besar dan ancaman tsunami di media sosial.
BNPB, Gudang Logistik Percepat Respons Darurat Bencana tanpa Tunggu Pusat

Bencana ini mengakibatkan 105 orang meninggal dunia dan 1.678 orang mengalami luka-luka. Kerusakan infrastruktur mencakup 81.436 unit rumah warga serta berbagai fasilitas umum, mulai dari sekolah, masjid, hingga gedung perkantoran pemerintah. Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur tercatat sebagai wilayah dengan dampak kerusakan paling parah, disusul oleh Kabupaten Nagekeo di posisi ketiga.
Layanan Kesehatan dan Penyaluran Logistik
Dampak gempa juga mengganggu fasilitas pelayanan dasar, di mana 19 puskesmas tercatat belum dapat beroperasi secara penuh akibat kekhawatiran terhadap gempa susulan. Untuk mengatasi kendala penanganan medis, petugas di lapangan telah mendirikan 122 tenda darurat di halaman puskesmas. Selain itu, TNI Angkatan Laut mengerahkan dua kapal rumah sakit guna melayani warga, yakni KRI dr. Soeharso di Kabupaten Manggarai dan kapal rumah sakit Kesatria Airlangga di Manggarai Timur.
Jalan-Jembatan di NTT Pulih Usai Gempa 7,7 M, Kantor Pemerintah Masih Rusak

Untuk pemenuhan kebutuhan dasar penyintas, sebanyak 2.032 ton logistik telah dikirimkan melalui jalur Halim, dengan 1.539 ton di antaranya sudah berhasil disalurkan ke lokasi terdampak. Distribusi tersebut terbagi untuk wilayah Labuan Bajo sebanyak 1.035 ton dan Maumere sebesar 504 ton. Pengiriman logistik ini diperkuat oleh armada udara melalui 34 sorti pesawat TNI AU (445 ton) dan 61 sorti penerbangan komersial (915 ton), di samping 179 ton pasokan yang diangkut menggunakan jalur laut.






