Ahmad Saudi mencengkeram kuat tiang jendela kapal ketika lambung KM Virgo Transport 8 mendadak miring tajam ke kiri di perairan Masalembo, Laut Jawa, Minggu (13/9/2026). Penumpang selamat ini menceritakan bahwa peristiwa nahas tersebut berlangsung sangat cepat tanpa didahului bunyi alarm keselamatan ataupun instruksi darurat dari awak kapal.
Saat insiden bermula, Ahmad sedang tertidur di sebuah sofa. Ketenangan di ruang penumpang mendadak pecah ketika salah seorang penumpang berlari panik sambil berteriak memberitahukan bahwa posisi kapal sudah mengalami kemiringan ekstrem.
Dalam situasi yang mencekam, pria asal Surabaya yang menetap di Banjarbaru ini berupaya menyelamatkan diri secara mandiri. Ia bertahan pada tiang jendela hingga kapal semakin rebah, kemudian merayap menuju dek bagian atas sebelum akhirnya melompat ke perahu karet penyelamat sesaat menjelang kapal tenggelam seutuhnya.
Terkunci dari Luar, Dua Bocah Tewas Terjebak Kebakaran di Surabaya

Di atas perahu karet tersebut, Ahmad bersama 14 penumpang lainnya鈥攜ang seluruhnya merupakan laki-laki鈥攈arus menghadapi ujian berat. Mereka terombang-ambing selama sekitar tiga jam di tengah hantaman gelombang tinggi dan terpaan angin kencang di Laut Jawa sebelum kapal penyelamat tiba di lokasi untuk mengevakuasi mereka.
Ahmad, yang saat itu tengah menyeberang menuju Kalimantan untuk mengantarkan armada bus dari Surabaya, akhirnya berhasil dibawa ke posko pelayanan kesehatan darurat bagi korban kecelakaan laut di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada Minggu malam.
Komisi V DPR Desak Langkah Darurat untuk Tekan Angka Kecelakaan Kapal Penumpang

Berdasarkan data sementara yang dihimpun Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), sebanyak 107 penumpang KM Virgo Transport 8 telah berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Namun, musibah ini menelan korban jiwa, dengan enam orang ditemukan meninggal dunia dan 130 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Operasi pencarian skala besar terus dimaksimalkan di sekitar perairan Masalembo. Basarnas telah mengerahkan kekuatan gabungan sebanyak 15 armada laut dan udara, yang mencakup 11 unit kapal penyelamat, satu helikopter, serta tiga pesawat udara guna menyisir keberadaan para korban yang belum ditemukan.






