Runtuhnya bagian bawah gletser di Pegunungan Himalaya menjadi pemicu banjir bandang dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet (Tiongkok) pada Rabu (27/8). Bencana hidrometeorologi ekstrem ini menewaskan sedikitnya 157 orang setelah longsoran es dan bebatuan dalam volume besar meluncur deras ke dasar lembah dan menyapu aliran Sungai Lhende Khola.
Getaran akibat runtuhan gletser tersebut sempat disangka sebagai gempa bumi tektonik. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) pada awalnya mendeteksi sinyal energi seismik setara magnitudo 4,4 pada pukul 08.37 waktu setempat, dengan titik koordinat sekitar 55 kilometer barat laut Kodari, Nepal. Namun, USGS segera memperbarui informasinya dan mengonfirmasi bahwa gelombang seismik tersebut dihasilkan oleh tanah longsor akibat runtuhan massa gletser, bukan aktivitas gempa bumi.
Material longsoran dan banjir bandang berkecepatan tinggi itu langsung menghantam pelabuhan Gyirong di Tibet serta merangsek ke sejumlah kawasan permukiman di Nepal. Hantaman air dan lumpur menenggelamkan desa-desa, memutus akses jalan utama, dan meluluhlantakkan proyek pembangkit listrik. Mengantisipasi dampak luapan air di wilayah hilir, sekitar 5.000 warga di Negara Bagian Bihar, India, turut dievakuasi setelah status peringatan bahaya banjir dikeluarkan.
Ketua Umum Bhayangkari Gelar Bakti Sosial bagi Anak-anak dan Pengungsi Gempa NTT

Operasi tanggap darurat di titik bencana menghadapi kendala berat di lapangan. Sebagian besar area terdampak mengalami pemadaman listrik total dan tertutup endapan lumpur tebal, sementara armada helikopter penyelamat belum dapat mendarat hingga genangan air berangsur surut.
Selain korban tewas, lebih dari 400 warga negara asing dilaporkan hilang. Daftar korban yang belum ditemukan mencakup 133 peziarah asal India, 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, 24 warga Kanada, 9 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air asal Korea Selatan, serta warga negara dari Malaysia dan Afrika Selatan.
Manggala Agni Padamkan Kebakaran Lahan Gambut di Tanjung Jabung Timur Jambi

Saat ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tengah memobilisasi personel dan logistik darurat ke lokasi terdampak. Pemerintah India memperkuat koordinasi dengan otoritas di Kathmandu untuk operasi penyelamatan, sementara Korea Selatan telah mengerahkan tim respons cepat guna membantu penanganan para korban.






