Persediaan rudal jarak jauh berpresisi tinggi milik Amerika Serikat dilaporkan mengalami penyusutan drastis setelah lima bulan terlibat dalam konfrontasi bersenjata melawan Iran. Laporan ini memicu perdebatan sengit mengenai kesiapan militer Washington di tengah konflik yang awalnya diprediksi akan berlangsung singkat. Sementara pihak internal militer dan lembaga kajian strategis menyuarakan kekhawatiran atas menipisnya cadangan senjata pertahanan, Gedung Putih justru menunjukkan optimisme tinggi terhadap kapasitas industri pertahanan domestik mereka.
Angkatan Darat Amerika Serikat dikabarkan telah menggunakan sebagian besar persediaan global untuk dua rudal andalannya, yaitu Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM). Bahkan, dua dari tiga sumber mengungkapkan bahwa militer negara adidaya tersebut telah menghabiskan hampir seluruh persediaan kedua jenis rudal taktis tersebut. Padahal, ATACMS juga memegang peranan krusial dalam teater perang lain, seperti di Ukraina untuk menyerang sasaran di dalam wilayah Rusia. Di sisi lain, PrSM yang merupakan generasi baru dengan teknologi lebih canggih untuk menggantikan ATACMS yang berdaya jangkau lebih pendek, kini juga ikut terkuras sebelum proses transisi selesai sepenuhnya.








