PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tengah bersiap memasuki fase baru dalam pengembangan bisnis hilirisasi nikel di Tanah Air. Perusahaan menargetkan untuk segera mengoperasikan tiga megaproyek hilirisasi berskala besar dengan total nilai investasi mencapai sekitar US$ 8,7 miliar, atau setara dengan Rp 155 triliun dengan asumsi kurs Rp17.860 per dolar Amerika Serikat.
Ketiga fasilitas pengolahan nikel tersebut merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP). Langkah strategis ini dikembangkan oleh perusahaan guna memenuhi komitmen perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sekaligus mengoptimalkan nilai tambah sumber daya mineral di Indonesia.
Dua Perempuan Diusulkan Pimpin Bank Indonesia, Elang atau Merpati?

Proyek pertama adalah fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek yang menelan investasi sebesar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 35,8 triliun ini dikembangkan bersama GEM dan EcoPro untuk memasok bahan baku industri baterai. Kegiatan penambangan di Bahodopi telah berjalan sejak kuartal I 2025 dengan produksi 5,5 juta WMT saprolit per tahun, sementara kebutuhan bijih nikel untuk smelter mencapai 10,4 juta WMT limonit per tahun. Konstruksi tambang tahap pertama kini telah mencapai 99 persen dengan menyerap 1.979 pekerja operasional. Pabrik HPAL yang dirancang berkapasitas 66.000 ton MHP per tahun ini kemajuan pembangunannya mencapai 22 persen dan ditargetkan beroperasi pada 2026-2027 dengan proyeksi penyerapan 1.600 tenaga kerja. Fasilitas pendukung di kawasan industri Sambalagi juga terus dibangun, meliputi pabrik asam sulfat, Waste Heat Recovery Steam Boiler (WHRSB), kamp pekerja berkapasitas 700 hingga 800 kamar, fasilitas pembibitan untuk 3.000 bibit, empat kolam pengendapan, serta pelabuhan khusus dengan lima dermaga yang sudah beroperasi.
Selanjutnya, terdapat proyek HPAL Pomalaa di Sulawesi Tenggara yang dikembangkan bersama Ford Motor Company dan Huayou. Proyek ini memiliki nilai investasi US$ 4,5 miliar atau sekitar Rp 80,5 triliun. Kemajuan konstruksi tambang Pomalaa saat ini berkisar di angka 60 persen dengan target mulai beroperasi pada tahun 2026 dan mempekerjakan sekitar 2.133 tenaga kerja operasional. Tambang ini diproyeksikan memproduksi 7 juta WMT saprolit dan 21 juta WMT limonit per tahun. Sementara itu, pembangunan pabrik HPAL berkapasitas 120.000 ton nikel per tahun dalam bentuk MHP telah mencapai 50 persen. Pabrik tersebut ditargetkan beroperasi pada tahun 2026 dengan kebutuhan pekerja operasional mencapai 3.017 orang. Fasilitas pendukung seperti tujuh kolam pengendapan dan pembibitan berkapasitas 3.500 bibit juga telah dirampungkan di lokasi ini.
Strategi Bank Aladin Syariah Menjaga Kualitas Aset di Era Digital

Megaproyek ketiga adalah pengembangan IGP Sorowako Limonit di Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Bermitra dengan Huayou, proyek dengan investasi US$ 2,2 miliar atau sekitar Rp 39,4 triliun ini diperkirakan mulai beroperasi pada periode 2027-2028. Tambang Sorowako ditargetkan memproduksi 11,5 juta WMT limonit per tahun dengan progres konstruksi saat ini mencapai 37 persen dan melibatkan sekitar 400 pekerja operasional. Untuk pabrik HPAL berkapasitas 60.000 ton MHP per tahun, pembangunannya mencapai 17 persen dengan target beroperasi pada tahun 2027 dan perkiraan serapan 1.600 tenaga kerja operasional. Tiga unit autoclave untuk fasilitas ini sedang dalam proses fabrikasi di China dan dijadwalkan tiba di lokasi pada pertengahan tahun 2026. Selain itu, proyek Sorowako telah menyelesaikan stockpile limonit berkapasitas 7,4 juta ton dari rencana total sebesar 8,4 juta ton.






