JAKARTA - Perusahaan pengembang properti dan perumahan di Indonesia, PT Pollux Hotels Group Tbk, mengambil keputusan penting terkait rencana bisnis perusahaan pada tahun 2026. Emiten yang dikenal dengan kode saham POLI dan bergerak dalam pembangunan hotel serta apartemen ini secara resmi memutuskan untuk menunda pembangunan hotel baru. Keputusan penundaan proyek konstruksi tersebut diambil secara langsung sebagai respons perusahaan dalam menghadapi era suku bunga tinggi yang sedang berlangsung. Langkah menunda pembangunan hotel baru pada tahun 2026 ini menjadi strategi utama perusahaan di tengah kondisi pasar saat ini.
Presiden Direktur PT Pollux Hotels Group Tbk, Handojo Koentoro Setyadi, menjelaskan bahwa penundaan pembangunan hotel baru tersebut merupakan bagian dari langkah bisnis perusahaan. Langkah bisnis ini diterapkan sebagai strategi konsolidasi internal PT Pollux Hotels Group Tbk. Strategi konsolidasi tersebut dinilai sangat diperlukan oleh perusahaan untuk menghadapi berbagai ketidakpastian yang ada di pasar. Dengan melakukan konsolidasi melalui penundaan proyek baru, perusahaan bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan yang dimiliki. Selain memperkuat struktur permodalan, langkah ini juga ditujukan untuk menjaga kualitas neraca perusahaan agar tetap sehat di era suku bunga tinggi.
Sebagai upaya untuk terus mempertahankan kinerja di tengah penundaan proyek baru, PT Pollux Hotels Group Tbk memilih untuk memaksimalkan potensi yang sudah dimiliki oleh perusahaan. POLI saat ini memfokuskan diri untuk mengoptimalkan aset-aset properti yang ada. Optimalisasi aset tersebut dilakukan perusahaan melalui langkah efisiensi operasional di berbagai lini. Melalui efisiensi operasional yang dijalankan, manajemen PT Pollux Hotels Group Tbk berharap dapat mengerek tingkat produktivitas perusahaan secara keseluruhan. Peningkatan produktivitas dari aset yang sudah beroperasi ini menjadi andalan perusahaan selama masa penundaan pembangunan hotel baru di era suku bunga tinggi.
BP BUMN dan Adhi Karya Minta Maaf ke Konsumen LRT City

Di samping melakukan efisiensi operasional, PT Pollux Hotels Group Tbk juga tengah berfokus pada pelaksanaan program khusus yang disebut sebagai program 4R. Program 4R yang dijalankan oleh POLI ini terdiri dari empat pilar utama, yakni renovation, repositioning, rebranding, serta revaluation. Keempat fokus dalam program 4R tersebut diterapkan pada aset-aset properti yang dikelola oleh perusahaan. Pelaksanaan program renovation, repositioning, rebranding, dan revaluation ini bertujuan agar seluruh aset yang ada dapat berjalan secara optimal. Dengan demikian, aset-aset tersebut diharapkan mampu memberikan nilai tambah yang maksimal bagi perusahaan.
Meskipun saat ini perusahaan memutuskan untuk menunda pembangunan hotel baru dan berfokus pada aset yang ada, PT Pollux Hotels Group Tbk tidak meninggalkan rencana pertumbuhan bisnisnya. Dalam jangka panjang, POLI tetap menargetkan ekspansi bisnis melalui berbagai pengembangan properti. Namun, target ekspansi jangka panjang tersebut akan dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kondisi pasar yang berlaku pada saat itu. Selain memperhatikan kondisi pasar, PT Pollux Hotels Group Tbk juga akan mencari skema pendanaan yang efektif untuk mendukung rencana pengembangan tersebut. Pencarian pendanaan yang efektif ini menjadi syarat penting bagi kelanjutan ekspansi perusahaan di masa depan.
Pakai EV Dorong Efisiensi Bisnis, Bos VinFast Ungkap Hitungannya

Penjelasan mengenai strategi bisnis PT Pollux Hotels Group Tbk di tengah ketidakpastian dan era suku bunga tinggi ini disampaikan secara langsung oleh manajemen perusahaan. Presiden Direktur PT Pollux Hotels Group Tbk, Handojo Koentoro Setyadi, memaparkan strategi tersebut dalam sebuah sesi dialog interaktif. Dialog tersebut dilakukan bersama Serliana Salsabila dalam program AutoBizz yang ditayangkan oleh CNBC Indonesia pada tanggal 31 Juli 2026. Pemaparan ini memberikan gambaran yang jelas mengenai langkah-langkah strategis yang diambil oleh POLI, mulai dari penundaan pembangunan hotel baru pada tahun 2026 hingga fokus pada program 4R dan efisiensi operasional.






