Timnas Thailand menghadapi misi berat untuk membalikkan ketertinggalan agregat 0-2 saat melakoni laga leg kedua final Piala AFF 2026 melawan Vietnam di Hanoi pada Rabu (26/8/2026). Skuad berjuluk Gajah Perang tersebut harus memecahkan rekor sejarah turnamen jika ingin mempertahankan dominasi di Asia Tenggara.
Kekalahan dua gol tanpa balas di Bangkok pada pertemuan pertama menempatkan Thailand di posisi kritis. Catatan sejarah Piala AFF menunjukkan belum pernah ada satu pun tim yang berhasil membalikkan defisit dua gol atau lebih pada partai final leg kedua. Situasi serupa pernah dialami Timnas Indonesia pada final edisi 2010 dan Malaysia pada 2014; kedua tim berhasil memetik kemenangan pada leg kedua, tetapi keunggulan skor tersebut tetap tak cukup untuk merebut trofi secara agregat.
Pelatih Thailand, Anthony Hudson, berupaya menyuntikkan kepercayaan diri kepada anak asuhnya demi meruntuhkan tren negatif tersebut. Hudson menilai jalannya pertandingan final belum tuntas dan tekanan psikologis justru kini berada di pihak tuan rumah.
Jelang Asian Games 2026, Dukungan untuk Atlet Indonesia Diperkuat

"Tekanan sebenarnya ada pada Vietnam. Anda unggul 2-0, di kandang sendiri, Anda akan mengatakan tekanan ada pada tim tuan rumah untuk mendapatkan hasil dan kemenangan," tutur Hudson. Ia juga menegaskan bahwa para pemain Thailand tampil apik pada leg pertama dan meminta skuadnya tetap yakin terhadap peluang yang ada.
Di sisi lain, Vietnam di bawah asuhan pelatih Kim Sang-sik berada di atas angin. Strategi Kim Sang-sik yang disiplin menjaga kerapatan antarlini serta memanfaatkan serangan balik cepat terbukti efektif meredam dominasi penguasaan bola Thailand pada leg pertama.
Hasil Piala Liga Millwall vs Newcastle United, Elkan Baggott Main Penuh, The Magpies Menang Tipis

Bagi Thailand yang memegang rekor tujuh gelar juara Piala AFF, duel penentuan di markas Vietnam ini menjadi ujian terbesar untuk membuktikan mentalitas juara mereka di panggung regional.






