Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Perumda Dharma Jaya bersiap merealisasikan proyek skala besar dengan membangun pusat penggemukan sapi di Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi Ciangir. Kawasan strategis ini berlokasi di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Proyek infrastruktur pangan ini direncanakan menelan nilai investasi yang cukup besar, yakni mencapai sekitar Rp1 triliun. Langkah pembangunan infrastruktur untuk kawasan peternakan terpadu tersebut dijadwalkan akan dimulai secara resmi pada November 2026. Pengembangan kawasan ini memiliki tujuan utama untuk memperkuat ketersediaan pasokan daging sapi sekaligus mendukung program ketahanan pangan di wilayah Jakarta secara berkelanjutan.
Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, menjelaskan bahwa pengembangan kawasan yang memiliki luas mencapai 20 hektare tersebut merupakan tindak lanjut dari persetujuan penggunaan Barang Milik Daerah (BMD). Izin penggunaan aset daerah ini telah diterbitkan oleh Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta. Menurut Raditya, optimalisasi aset daerah di Ciangir ini sangat penting dilakukan untuk memperkuat rantai pasok pangan bagi masyarakat, khususnya dalam pemenuhan komoditas daging sapi. Kawasan ini nantinya akan dikelola secara penuh oleh Perumda Dharma Jaya sebagai pusat penggemukan sapi modern yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan warga ibukota.
Di dalam Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi Ciangir tersebut, pihak pengembang akan membangun berbagai infrastruktur utama yang saling mendukung kelancaran proses bisnis peternakan dari hulu hingga ke hilir. Fasilitas modern yang akan didirikan di area ini meliputi kandang penggemukan sapi berkapasitas besar, kandang karantina untuk memastikan kesehatan hewan ternak sebelum diproses, serta rumah potong hewan (RPH) yang memenuhi standar. Selain itu, kawasan ini juga akan dilengkapi dengan penyediaan lahan hijauan pakan ternak. Pengelolaannya dipastikan akan menerapkan sistem modern yang dirancang khusus untuk meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas peternakan secara keseluruhan.
MIND ID Perkuat Kontribusi Penerimaan Negara lewat Pengelolaan Mineral

Terkait dengan pemenuhan nutrisi hewan, kebutuhan pakan ternak di kawasan Ciangir ini akan dipenuhi secara mandiri oleh pihak pengelola. Perumda Dharma Jaya akan memanfaatkan teknologi terkini dalam pengelolaan dan penyediaan pakan, sehingga kualitas dan tingkat produktivitas sapi yang digemukkan dapat terus terjaga dengan baik. Melalui penerapan teknologi ini, kawasan peternakan terpadu tersebut diharapkan menjadi salah satu penopang utama ketersediaan pasokan daging sapi yang dipastikan aman, sehat, berkualitas tinggi, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Jakarta pada masa-masa mendatang.
Selain berfokus pada upaya memperkuat pasokan pangan daerah, pengembangan kawasan terintegrasi di Kabupaten Tangerang ini juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek. Kehadiran pusat penggemukan sapi modern ini diproyeksikan dapat membuka banyak lapangan pekerjaan baru melalui penyerapan tenaga kerja lokal. Di samping itu, proyek strategis ini akan membuka peluang kemitraan yang saling menguntungkan dalam hal penyediaan hijauan pakan ternak, serta mendorong program pemberdayaan bagi berbagai pelaku usaha lokal yang beroperasi di wilayah sekitarnya.
Pengembangan Panas Bumi Gunung Ungaran, Undip Soroti Pengurangan Emisi dan Keberlanjutan

Pengembangan lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di wilayah Ciangir ini pada kenyataannya tidak hanya terbatas pada komoditas sapi semata. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa lahan seluas 20 hektare tersebut akan dikembangkan secara komprehensif sebagai kawasan ketahanan pangan yang lebih luas. Area ini akan mencakup integrasi antara sektor peternakan, perikanan, dan pertanian. Pramono merinci bahwa ketahanan pangan yang akan dibangun di kawasan tersebut meliputi peternakan sapi, peternakan ayam, budidaya ikan, dan berbagai komoditas pendukung lainnya yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan warga Jakarta.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Pramono Anung juga secara tegas memastikan bahwa kawasan Ciangir sama sekali tidak akan difungsikan sebagai lokasi alternatif untuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Seluruh area tersebut akan difokuskan sepenuhnya untuk mendukung pengembangan sektor ketahanan pangan. Saat ini, proyek bernilai Rp1 triliun tersebut masih berada pada tahap koordinasi lintas instansi, proses sosialisasi kepada masyarakat luas, serta penyelesaian berbagai tahapan perizinan sebelum pada akhirnya memasuki masa konstruksi pada akhir tahun 2026.






