Akhir pekan ini menjadi momen yang kurang menyenangkan bagi para pelaku pasar modal di dalam negeri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa menutup perdagangan hari Jumat (24/7) sore dengan koreksi yang cukup dalam. Indeks saham acuan tanah air tersebut mendarat di level 6.196, setelah terpangkas sebesar 118,88 poin atau melemah 1,88 persen dibandingkan dengan hari perdagangan sebelumnya.
Lesunya pergerakan indeks kali ini diwarnai oleh tingginya volume transaksi di lantai bursa. Berdasarkan data dari RTI Infokom, para investor membukukan nilai transaksi mencapai Rp17,71 triliun dengan volume perdagangan menyentuh angka 37,86 miliar lembar saham. Sayangnya, aktivitas perdagangan yang masif tersebut didominasi oleh aksi jual, sehingga menekan pergerakan IHSG secara keseluruhan sepanjang hari.
Kondisi pasar yang memprihatinkan ini terlihat jelas dari sebaran pergerakan harga saham individual. Tercatat sebanyak 587 saham bergerak lunglai dan berakhir di zona merah. Jumlah saham yang melemah ini jauh melampaui saham yang berhasil menguat, yang hanya berjumlah 104 saham. Sementara itu, terdapat 105 saham yang posisinya tidak mengalami perubahan alias stagnan hingga bel penutupan dibunyikan.
Harga Emas Antam Mulai Merangkak Naik Setelah Sempat Anjlok Tajam

Tekanan jual yang merata membuat seluruh sektor di bursa saham domestik tidak berdaya. Sebelas sektor indeks secara kompak mencatatkan pelemahan tanpa ada satu pun yang mampu bertahan di zona hijau. Sektor barang konsumen non-primer menjadi motor utama kejatuhan indeks setelah mengalami kemerosotan paling tajam, yakni minus 3,26 persen. Hal ini menunjukkan betapa meluasnya sentimen negatif yang membayangi para pelaku pasar domestik.
Sentimen negatif ini tampaknya tidak terlepas dari pengaruh eksternal, di mana mayoritas bursa saham di kawasan Asia juga bernasib serupa. Indeks Nikkei 225 di Jepang terpantau merosot hingga 2,73 persen, diikuti oleh Shanghai Composite di China yang turun sebesar 1,61 persen. Di Asia Tenggara, indeks Straits Times Singapura juga mengalami pelemahan tipis sebesar 0,02 persen. Kondisi ini diperparah oleh rontoknya bursa saham Amerika Serikat, di mana indeks NASDAQ memimpin kejatuhan dengan minus 2,15 persen, disusul S&P 500 yang melemah 1,21 persen, dan Dow Jones yang terpangkas 0,97 persen.
Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Kendati demikian, masih ada sedikit angin segar yang berembus dari belahan dunia lain. Di kawasan Asia, indeks Hang Seng Composite di Hong Kong berhasil melawan arus dengan mencatatkan penguatan sebesar 1,28 persen. Sementara itu, bursa saham di Eropa juga kompak menghijau, di mana indeks DAX Jerman tumbuh 0,81 persen dan indeks FTSE 100 Inggris naik tipis 0,48 persen. Sayangnya, performa positif dari Eropa dan Hong Kong tersebut belum cukup kuat untuk menyelamatkan IHSG dari keterpurukan di akhir pekan ini.






