Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan hari Selasa, 28 Juli 2026. Mata uang Garuda tersebut mengawali hari di posisi Rp18.060 per dolar Amerika Serikat. Angka pembukaan ini menunjukkan depresiasi sebesar 0,33 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Tren pelemahan ini merupakan kelanjutan dari pergerakan pasar sebelumnya, di mana rupiah ditutup turun 0,36 persen dan berada tepat di level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Pergerakan nilai tukar ini sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen yang berasal dari dinamika internal di dalam negeri serta kondisi eksternal di pasar global.
Dari sisi domestik, perhatian utama para pelaku pasar keuangan tengah tertuju pada perubahan mendadak di pucuk pimpinan Bank Indonesia. Perry Warjiyo secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia pada hari Sabtu, 25 Juli 2026. Keputusan pengunduran diri yang didasari oleh alasan pribadi tersebut memunculkan berbagai kekhawatiran di tengah pasar. Fokus utama dari kekhawatiran tersebut berkaitan erat dengan bagaimana proses transisi kepemimpinan akan berjalan dan seperti apa arah kebijakan bank sentral di masa mendatang.
Merespons situasi tersebut, Dewan Gubernur Bank Indonesia segera mengambil langkah dengan menetapkan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai pejabat Gubernur sementara. Keputusan ini diambil melalui sebuah rapat yang diselenggarakan pada hari Minggu, 26 Juli 2026. Destry Damayanti langsung memberikan penegasan bahwa seluruh pelaksanaan tugas maupun proses pengambilan keputusan di dalam Bank Indonesia akan tetap berjalan secara kolektif dan kolegial. Pihak bank sentral juga memastikan bahwa tugas utama mereka untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengawal sistem pembayaran, serta memelihara sistem keuangan akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Danantara Ungkap Laba Telkom Berpotensi Naik Sedikitnya 30 Persen Lewat Streamlining

Kendati demikian, transisi kepemimpinan ini tetap dipandang sebagai sebuah sentimen negatif bagi pasar keuangan domestik. Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rahman, memberikan pandangannya mengenai dampak dari mundurnya Perry Warjiyo. Menurut Faisal, terdapat ketidakpastian yang menyelimuti proses transisi kepemimpinan tersebut. Ia memaparkan bahwa ada kekhawatiran di kalangan pelaku pasar apabila sosok pengganti nantinya memiliki kedekatan dengan pemerintah. Kondisi semacam itu dinilai dapat memunculkan kembali persepsi negatif terkait independensi Bank Indonesia, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan premi risiko di pasar keuangan.
Sementara itu, dari sisi eksternal, pergerakan nilai tukar rupiah juga mendapat tantangan dari dinamika dolar Amerika Serikat di pasar internasional. Berdasarkan pantauan pada pukul 09.00 WIB, indeks dolar Amerika Serikat (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah tipis sebesar 0,05 persen ke posisi 101,483. Meskipun mengalami sedikit pelemahan pada pagi ini, indeks dolar Amerika Serikat tersebut masih mampu bertahan di sekitar level tertingginya dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Sensus Ekonomi 2026 Jadi Salah Satu Sumber Pemutakhiran DTSEN

Ketahanan dolar Amerika Serikat ini tidak lepas dari sikap antisipatif para pelaku pasar global yang tengah menantikan hasil pertemuan dua hari Federal Open Market Committee (FOMC). Pertemuan krusial bank sentral Amerika Serikat tersebut dijadwalkan berakhir pada hari Rabu, 29 Juli 2026. Menjelang pengumuman hasil pertemuan, sejumlah lembaga keuangan besar mulai melihat adanya risiko bahwa The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, peluang terjadinya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini telah mencapai angka 36,3 persen.
Angka probabilitas kenaikan suku bunga tersebut mencatatkan peningkatan yang sangat tajam jika dibandingkan dengan posisi pada sepekan sebelumnya yang hanya berada di level 16 persen. Tidak hanya untuk pertemuan saat ini, pasar bahkan telah memperhitungkan peluang yang lebih besar untuk pertemuan bulan September mendatang dengan proyeksi mencapai 81 persen. Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang ketat ini tetap bertahan di pasar, meskipun di sisi lain harga minyak dunia mulai menunjukkan tren penurunan yang meredakan sebagian kekhawatiran mengenai inflasi. Prospek kebijakan The Federal Reserve yang lebih ketat ini masih menjadi faktor utama yang dapat menjaga kekuatan dolar Amerika Serikat sekaligus membatasi ruang bagi nilai tukar rupiah untuk kembali menguat.






